Saturday, October 31, 2009

Hanya untuk ber ucap 'Terimakasih'

Melihat panas mentari di antara ruas jendela rumah
Menghantar ku pada suatu kenyataan.
Bahwa sebenarnya kita sedang berlindung diantara pemberian NYA.

Bukan kah kita sadar
Bahwa panas mentari juga anugrah NYA kepada kehidupan ?
Kenapa kita banyak yang berlindung ...

Beranikah kita berdiri diantara pemberian NYA ?
Hanya untuk ber ucap 'Terimakasih'

Steeve Haryanto Souw
Kartini,31 Oktober 2008.

Monday, September 21, 2009

Itu adalah proses alam.

Disaat sungai membelah gundukan perbukitan.
Terlihat ketidak mampuan nya untuk menahan lajunya air deras membentang.
Ku melihat begitu lah proses alam sebenarnya.

Disaat awan menyelimuti langit dengan kepekatannya
Terlihat titik titik bintang memberikan celah pada sinarnya.
Ku melihat begitulah proses alam sebenarnya.

Tidak diminta ...
Tidak diperkirakan ...
Tidak juga dibayangkan ...

Ketika terjadi suatu bencana atau pun berkah datang secara tiba - tiba.
Itu adalah proses alam.

Senayan, 21 September 2009
Steeve Haryanto Souw

Friday, August 07, 2009

Menjadikan mu sebagai tempatnya ber ternak.

Wajah mu kulukiskan sebagai foto mendiang mu
Keringat mu kulukiskan sebagai darah korban mu
Tangan mu kulukiskan sebagai penghunus emosi mu

Dan ...

Bau tubuh mu tidak lebih dari rayap yang menggrogoti nadi mu
Ku panjatkan sumpah semoga belatung - belatung dari berbagai kehidupan senantiasa menjadikan mu sebagai tempatnya ber ternak.

Sunday, July 26, 2009

Merayap melebihi hewan melata semelatanya.

Berawal dari lumuran lumpur bertajuk anak bawang
Meniti kehidupan sedari awal dengan menapaki tanah lapang

Beralas mental
Tidak berkompas sedari awal

Menggenggam segala keyakinan
Menangkap yang sudah terjungkal
Sehingga kembali bermental

Apa alam kiranya tidak lagi berkawan?
Sehingga ku harus merayap melebihi hewan melata semelatanya.

Senayan 26 July 2009

Steeve Haryanto Souw

Wednesday, July 15, 2009

Tidak terlahirkan ditengah gurun kesengsaraan.

Inginnya ku menatap langit tidak lagi berkedip.
Inginnya ku membawa bulan, tidak lagi termegap megap.

Bagaikan burung yg bebas kian kemari, menembus langit ke tujuh.
Menghirup udara bebas melampaui yg teratas dari lingkaran setan.

Tetapi apa daya aku hanya seorang manusia, yg lagi2 adalah merupakan salah satu ciptaannya dengan segala kekurangan yg menjadi kelebihan.
Berdoalah untuk sang DUNIA, agar penantian anak manusia nan suci tidak terlahirkan ditengah gurun kesengsaraan.

Sunday, July 12, 2009

Penghargaan dari dunia dan alam.

Tanyakanlah pada dunia, apa yg kita harus perbuat hari ini?

agar kita selamat dari murka nya alam.


Tanyakanlah pada illahi, apa yg kita harus hindari hari ini?

agar kita selamat dari seleksi alam.


Tanyakanlah pada diri kita sendiri, apa yg kita harus pikirkan,perbuat,dan berucap?

agar kita mendapatkan penghargaan dari dunia dan alam.


Senayan,
12 July 2009

Sunday, June 21, 2009

Perjuangan ku akan hidup bersama dunia

Terakitlah sebuah kereta berlapis emas kemilau.
Sinarnya menyayat mata hingga hati yg melihat.

Kutemukan suatu gagas untuk kembali merakitnya lebih baik.
Walau asa dan usia kian menipis.

Kurangkul mimpi.
Kuseret ketepian.
Dimana kudapati ruang untuk menempatkan nya pada titik terakhir perjuangan ku akan hidup bersama dunia.

Saturday, June 20, 2009

Melampaui ujung gunung terakhir

Banyak kata yg tak mampu ku tuliskan pada dunia ini.
Hembusan nafas melambungkan mimpi semangkin meninggi.

Kemungkin akan kegagalan akan menjadi kenyataan.
Kemungkin akan keberhasilan akan menjadi impian.

Langkah selanjutnya adalah mempertebal semangat
Mempertinggi derajat dan martabat yg manusiawi melampaui ujung gunung terakhir.

Tuesday, November 04, 2008

Mengais belas kasihan kehitaman malam sama seperti dirinya hitam muram kusam.

Dingin menyengat membawa alunan hitam menjilat tenggorokku
Mendelikan mata melihat batas pantat membelalak disinari lampu jalanan
Kuning kusam, gelap menghimpit
Wanita berjenis kelaminnya.

‘tidak dingin kah kau berjalan seorang diri di malam sehabis hujan’
kusangka hanya sebuah bayangan seorang yang baru pulang dari sebuah pesta ria gembira
ternyata kusalah sobat

dia hanyalah seorang wanita penjaja kelamin untuk bertahan hidup
tidak seberapa kulihat wajahnya
tetapi yang pasti wajah nya hanya sebagai pelengkap sebagai seorang manusia.
Harkat dan martabat dirinya telah terhempas ke dasar selokan paling kotor
Mengais belas kasihan kehitaman malam sama seperti dirinya hitam muram kusam.

Kartini
04.11.2008
Steeve Haryanto Souw

Mewartakan kedamaian akan hidup sederhana tetapi pasti

Airnya menyentuh sampai lapisan terdalam diriku
Dapat kurasakan dia mengalir lambat dan membisu
Merayap menelusuri setiap jengkal dari apa sudah tercipta
Melumurinya dengan dingin yang biasanya terik menghujam.

Membiarkan kulit diri ini retak
Perpindahan dari dingin ke panas yang telah mengerak
Menembus pori – pori kehidupan
Menyentuh saraf – saraf terkecil yang ada didalamnya.

Begitu pula dengan perjalanan hidup ku
Menyebarang lautan meninggalkan yang telah ada
Menyembelih hati sekaligus mengukir yang baru
Mewartakan kedamaian akan hidup sederhana tetapi pasti.

Kartini
04.11.2008
Steeve Haryanto Souw

Sunday, August 24, 2008

Nasi yang hanya berupa penampakan.

Kalau pagi menjelang
Malam pun menghilang
apa artinya pagi dan malam?
Kalau terus menerus merindukan
nasi yang hanya berupa penampakan.

Senayan, 23 Agustus 2008
Steeve Haryanto Souw.

Tuesday, June 17, 2008

Dan menjadi tuan rumah di lobang pembuangan


Terhimpit ku menjerit
Tertampat ku menggeliat
Mati dalam genggaman cita2
Mati dalam hisapan pasir ber lumpur

Boleh kah ku sedikit berkelakar
"BBM naik lagi, asik jalanan jadi sepi pengendara"

Jutaan pengangguran akan terjadi
Tiga ratus juta penduduk indonesia akan kembali di rumahkan
Dan menjadi tuan rumah di lobang pembuangan.

Steeve haryanto souw
Senayan 17 June 2008.

Thursday, May 29, 2008

Tetapi yang kutau, aku setia pada negeri ini.


Ketika waktu terasa senja
Waktu berganti,malam pun menjelang

Tidak terasa tanah ini kuinjak selama
ratusan tahun.

Bermata sipit dan berkulit kuning
bukan lagi ciri khas ku.
Sawo matang katanya.


Rasanya baru kemarin soekarno
berpidato didepan orang banyak
kalau Indonesia telah merdeka.


Mengkumandangkan dasar negara.

Mengibarkan bendera sang pusaka.

Tidak tahu apa arti yg diingikannya.

Tetapi yang kutau, aku harus setia
pada negeri ini.

Steeve haryanto souw
Senayan 29 may 2008

Monday, May 19, 2008

Menghadirkan nisan bertuliskan pahlawan reformasi.

Senja telah tiba
Awan meliputi keheningan di tengah hutan beton berjajar.
Jeritan nya masih terasa disaat hingar bingar bunyi ledakan terjadi
Menggaung membinasakan anak manusia.

Anak manusia yg akan menjadi anak bangsa
Menopang almamater menghadirkan kesegaran dalam demokrasi Pancasila
Tewas diterjang timah panas.

Jasadnya kini membumi
Menghadirkan nisan bertuliskan pahlawan reformasi.

Friday, May 16, 2008

Penghidupan yg baru.

Berabad abad katanya kau di jajah
dibawah bedil kompeni
Benarkah itu?

Berabad abad katanya kau makan dan beranak
di liat ini.Sehingga kau namakan batavia sampai
ke Jayakarta.
Benarkah itu?

Berabad abad katanya kau mencari ongok2 kehidupan
meneteskan keringat untuk setiap jengkal kekosongan
dari perut mu.Sehingga kau katakan aku pribumi
dan kau pendatang.
Benarkah itu?

Boleh lah sedikit ku patahkan tulang tengkorak lehermu
sehingga ku bisa menghentikan pemikiran udang mu itu.

Nusantara ini tidak pernah dijajah oleh kompeni.
Kompeni datang karna tanah in tidak bertuan.
Kalau tanah tidak bertuan siapa pun datang untuk
penghidupan yg baru.

Kelapa gading 16 May 2008
Steeve haryanto souw

Thursday, May 15, 2008

keimanan yg hakiki melebihi kedinginan ditengah padang es sekalipun.

Dihadirkan pada pilihan

Maju akan menjadi beku dan dingin
berselimut kain kafan.
Mundur akan menjadi tiang garam dimana
akhirat akan menjadi taruhan.

Tidak maju dan tidak mundur
Berdiri ditengah tengah akan
menjadi sebongkah pohon pisang yg
tidak pernah bertunas.

Yang disadari hanya kenistaan yg
harus nya di brangus oleh kucuran
keimanan yg hakiki melebihi kedinginan
ditengah padang es sekalipun.

Kelapa Gading 15 May 2008
Steeve haryanto souw

Nisan yg kuanggap sebagai persembahan terakhir dari nya pada dunia

Ketika kubaca bk tentang riwayat seseorang
terdesir rasa ingin sepertinya.
Ketika kucoba jalani seperti apa yg seseorang
tersebut lakukan tersirat dirinya bukan lah diriku.

Diri ku adalah diri ku
Diri nya adalah diri nya

Kusadari tetapi tidak mampu kutandingi
Bahwa mereka hidup di jaman yg bisa
Kulihat banyak kemudahan dan kesulitan.

Aku bisa melihatnya dengan mudah diatas kertas

Disaat menjalani tanpa suara
Tanpa ada seorang pun yg menulis tentangnya

Mungkin kah namanya senantiasa terukir diatas
nisan yg kuanggap sebagai persembahan
terakhir dari nya pada dunia?

Kelapa Gading 15 May 2008
Steeve haryanto souw

Wednesday, May 14, 2008

Malah sekarang kau belai dengan belati sekaligus kau binasakan.

Disaat ku berdiri bertelanjang kaki
kurasakan panas alas merambah hingga ujung kepala.

Itu hanya kaki kita kawan
dimana tercipta sebagai penopang organ diatasnya.

Bayangkan kalau panas alas tersebut adalah timah yg dibungkus dalam
lempengan baja yang merambah dengan paksa di ujung kening kita.

Bukan lagi kekakuan yg terjadi melainkan
kenistaan atas kemanusiaan yg telah ter gulir.

Berhentilah menjilat wahai pemegang timah panas.
Rakyat mu sendiri yg ku jejali dengan benda itu.
Rakyat yg seharusnya kau bela
Rakyat yg seharusnya kau bina

Malah sekarang kau belai dengan belati sekaligus kau binasakan.

Ketika ku harus menunggu semestinya aku hanya duduk terpaku.

Ketika ku harus berdiri semestinya
aku tidak melangkahkan kaki.

Anak kami turun kejalan dengan mental baja
menghardik ketidak adilan dalam kurungan orang2 bersahaja.

Sekarang mereka telah terbujur kaku Bermandikan kembang penabur diatas altar. Tanpa sepasang canting keadilan yg bisa kusampaikan.

Selamat jalan anak2 ku semua
Sepuluh tahun sudah ku lewati
tanpa setitik pun aku menyerah
mengharap keadilan yg belum terhadirkan.

Kelapa Gading 14 May 2008

Tuesday, February 26, 2008

Penghujung kebahagian abadi - Untuk mu Papa

Pancaran cahaya lampu jalanan menembus kulit kepalamu yg tipis tertutup rambut.
Warna mu kini sudah melekat dengan hamparan aspal jalanan.
Tidak terawat, menyimpan segudang garam
Pahit getir pertahanan diri.

Bagai menghardik lolongan anjing hutan
Ditengah malam hitam menggeliat.
Masih terasa di bathin ini dekapan tanganmu
Kehangatan pengasihmu pada ku.

Tidak terasa kini kau telah renta
Usia mu telah lanjut.
Wajahmu kian pasi.

Pasrah pada keberadaan dunia
Menunjuk arah kehidupan pasrah mu.

Oh Putra langit
Aku sangat menyanyanginya.
Berikan waktu sedikit longgar untuk membawa nya pada
penghujung kebahagian abadi.