Sunday, June 21, 2009

Perjuangan ku akan hidup bersama dunia

Terakitlah sebuah kereta berlapis emas kemilau.
Sinarnya menyayat mata hingga hati yg melihat.

Kutemukan suatu gagas untuk kembali merakitnya lebih baik.
Walau asa dan usia kian menipis.

Kurangkul mimpi.
Kuseret ketepian.
Dimana kudapati ruang untuk menempatkan nya pada titik terakhir perjuangan ku akan hidup bersama dunia.

Saturday, June 20, 2009

Melampaui ujung gunung terakhir

Banyak kata yg tak mampu ku tuliskan pada dunia ini.
Hembusan nafas melambungkan mimpi semangkin meninggi.

Kemungkin akan kegagalan akan menjadi kenyataan.
Kemungkin akan keberhasilan akan menjadi impian.

Langkah selanjutnya adalah mempertebal semangat
Mempertinggi derajat dan martabat yg manusiawi melampaui ujung gunung terakhir.

Tuesday, November 04, 2008

Mengais belas kasihan kehitaman malam sama seperti dirinya hitam muram kusam.

Dingin menyengat membawa alunan hitam menjilat tenggorokku
Mendelikan mata melihat batas pantat membelalak disinari lampu jalanan
Kuning kusam, gelap menghimpit
Wanita berjenis kelaminnya.

‘tidak dingin kah kau berjalan seorang diri di malam sehabis hujan’
kusangka hanya sebuah bayangan seorang yang baru pulang dari sebuah pesta ria gembira
ternyata kusalah sobat

dia hanyalah seorang wanita penjaja kelamin untuk bertahan hidup
tidak seberapa kulihat wajahnya
tetapi yang pasti wajah nya hanya sebagai pelengkap sebagai seorang manusia.
Harkat dan martabat dirinya telah terhempas ke dasar selokan paling kotor
Mengais belas kasihan kehitaman malam sama seperti dirinya hitam muram kusam.

Kartini
04.11.2008
Steeve Haryanto Souw

Mewartakan kedamaian akan hidup sederhana tetapi pasti

Airnya menyentuh sampai lapisan terdalam diriku
Dapat kurasakan dia mengalir lambat dan membisu
Merayap menelusuri setiap jengkal dari apa sudah tercipta
Melumurinya dengan dingin yang biasanya terik menghujam.

Membiarkan kulit diri ini retak
Perpindahan dari dingin ke panas yang telah mengerak
Menembus pori – pori kehidupan
Menyentuh saraf – saraf terkecil yang ada didalamnya.

Begitu pula dengan perjalanan hidup ku
Menyebarang lautan meninggalkan yang telah ada
Menyembelih hati sekaligus mengukir yang baru
Mewartakan kedamaian akan hidup sederhana tetapi pasti.

Kartini
04.11.2008
Steeve Haryanto Souw

Sunday, August 24, 2008

Nasi yang hanya berupa penampakan.

Kalau pagi menjelang
Malam pun menghilang
apa artinya pagi dan malam?
Kalau terus menerus merindukan
nasi yang hanya berupa penampakan.

Senayan, 23 Agustus 2008
Steeve Haryanto Souw.

Tuesday, June 17, 2008

Dan menjadi tuan rumah di lobang pembuangan


Terhimpit ku menjerit
Tertampat ku menggeliat
Mati dalam genggaman cita2
Mati dalam hisapan pasir ber lumpur

Boleh kah ku sedikit berkelakar
"BBM naik lagi, asik jalanan jadi sepi pengendara"

Jutaan pengangguran akan terjadi
Tiga ratus juta penduduk indonesia akan kembali di rumahkan
Dan menjadi tuan rumah di lobang pembuangan.

Steeve haryanto souw
Senayan 17 June 2008.

Thursday, May 29, 2008

Tetapi yang kutau, aku setia pada negeri ini.


Ketika waktu terasa senja
Waktu berganti,malam pun menjelang

Tidak terasa tanah ini kuinjak selama
ratusan tahun.

Bermata sipit dan berkulit kuning
bukan lagi ciri khas ku.
Sawo matang katanya.


Rasanya baru kemarin soekarno
berpidato didepan orang banyak
kalau Indonesia telah merdeka.


Mengkumandangkan dasar negara.

Mengibarkan bendera sang pusaka.

Tidak tahu apa arti yg diingikannya.

Tetapi yang kutau, aku harus setia
pada negeri ini.

Steeve haryanto souw
Senayan 29 may 2008

Monday, May 19, 2008

Menghadirkan nisan bertuliskan pahlawan reformasi.

Senja telah tiba
Awan meliputi keheningan di tengah hutan beton berjajar.
Jeritan nya masih terasa disaat hingar bingar bunyi ledakan terjadi
Menggaung membinasakan anak manusia.

Anak manusia yg akan menjadi anak bangsa
Menopang almamater menghadirkan kesegaran dalam demokrasi Pancasila
Tewas diterjang timah panas.

Jasadnya kini membumi
Menghadirkan nisan bertuliskan pahlawan reformasi.

Friday, May 16, 2008

Penghidupan yg baru.

Berabad abad katanya kau di jajah
dibawah bedil kompeni
Benarkah itu?

Berabad abad katanya kau makan dan beranak
di liat ini.Sehingga kau namakan batavia sampai
ke Jayakarta.
Benarkah itu?

Berabad abad katanya kau mencari ongok2 kehidupan
meneteskan keringat untuk setiap jengkal kekosongan
dari perut mu.Sehingga kau katakan aku pribumi
dan kau pendatang.
Benarkah itu?

Boleh lah sedikit ku patahkan tulang tengkorak lehermu
sehingga ku bisa menghentikan pemikiran udang mu itu.

Nusantara ini tidak pernah dijajah oleh kompeni.
Kompeni datang karna tanah in tidak bertuan.
Kalau tanah tidak bertuan siapa pun datang untuk
penghidupan yg baru.

Kelapa gading 16 May 2008
Steeve haryanto souw

Thursday, May 15, 2008

keimanan yg hakiki melebihi kedinginan ditengah padang es sekalipun.

Dihadirkan pada pilihan

Maju akan menjadi beku dan dingin
berselimut kain kafan.
Mundur akan menjadi tiang garam dimana
akhirat akan menjadi taruhan.

Tidak maju dan tidak mundur
Berdiri ditengah tengah akan
menjadi sebongkah pohon pisang yg
tidak pernah bertunas.

Yang disadari hanya kenistaan yg
harus nya di brangus oleh kucuran
keimanan yg hakiki melebihi kedinginan
ditengah padang es sekalipun.

Kelapa Gading 15 May 2008
Steeve haryanto souw

Nisan yg kuanggap sebagai persembahan terakhir dari nya pada dunia

Ketika kubaca bk tentang riwayat seseorang
terdesir rasa ingin sepertinya.
Ketika kucoba jalani seperti apa yg seseorang
tersebut lakukan tersirat dirinya bukan lah diriku.

Diri ku adalah diri ku
Diri nya adalah diri nya

Kusadari tetapi tidak mampu kutandingi
Bahwa mereka hidup di jaman yg bisa
Kulihat banyak kemudahan dan kesulitan.

Aku bisa melihatnya dengan mudah diatas kertas

Disaat menjalani tanpa suara
Tanpa ada seorang pun yg menulis tentangnya

Mungkin kah namanya senantiasa terukir diatas
nisan yg kuanggap sebagai persembahan
terakhir dari nya pada dunia?

Kelapa Gading 15 May 2008
Steeve haryanto souw

Wednesday, May 14, 2008

Malah sekarang kau belai dengan belati sekaligus kau binasakan.

Disaat ku berdiri bertelanjang kaki
kurasakan panas alas merambah hingga ujung kepala.

Itu hanya kaki kita kawan
dimana tercipta sebagai penopang organ diatasnya.

Bayangkan kalau panas alas tersebut adalah timah yg dibungkus dalam
lempengan baja yang merambah dengan paksa di ujung kening kita.

Bukan lagi kekakuan yg terjadi melainkan
kenistaan atas kemanusiaan yg telah ter gulir.

Berhentilah menjilat wahai pemegang timah panas.
Rakyat mu sendiri yg ku jejali dengan benda itu.
Rakyat yg seharusnya kau bela
Rakyat yg seharusnya kau bina

Malah sekarang kau belai dengan belati sekaligus kau binasakan.

Ketika ku harus menunggu semestinya aku hanya duduk terpaku.

Ketika ku harus berdiri semestinya
aku tidak melangkahkan kaki.

Anak kami turun kejalan dengan mental baja
menghardik ketidak adilan dalam kurungan orang2 bersahaja.

Sekarang mereka telah terbujur kaku Bermandikan kembang penabur diatas altar. Tanpa sepasang canting keadilan yg bisa kusampaikan.

Selamat jalan anak2 ku semua
Sepuluh tahun sudah ku lewati
tanpa setitik pun aku menyerah
mengharap keadilan yg belum terhadirkan.

Kelapa Gading 14 May 2008

Tuesday, February 26, 2008

Penghujung kebahagian abadi - Untuk mu Papa

Pancaran cahaya lampu jalanan menembus kulit kepalamu yg tipis tertutup rambut.
Warna mu kini sudah melekat dengan hamparan aspal jalanan.
Tidak terawat, menyimpan segudang garam
Pahit getir pertahanan diri.

Bagai menghardik lolongan anjing hutan
Ditengah malam hitam menggeliat.
Masih terasa di bathin ini dekapan tanganmu
Kehangatan pengasihmu pada ku.

Tidak terasa kini kau telah renta
Usia mu telah lanjut.
Wajahmu kian pasi.

Pasrah pada keberadaan dunia
Menunjuk arah kehidupan pasrah mu.

Oh Putra langit
Aku sangat menyanyanginya.
Berikan waktu sedikit longgar untuk membawa nya pada
penghujung kebahagian abadi.

Tuesday, February 05, 2008

Layaknya barisan baret hijau menghardik bibir dan dubur sang manusia.

Melihat segores senyum di bibir tipis
menepis keraguan akan kemurkaan

Menutupi diri dengan kacamata hitam
menepis keraguan akan kesirikan

Memandang melanjutkan mimpi yg terputus
masih kusanggah akan terjatuhnya peluh

Ingin rasanya kurenggut dan kuhancurkan dalam kepalan tanpa
terbiaskan rasa kemanusian yg manusiawi

Layaknya barisan baret hijau menghardik bibir dan dubur sang manusia.

Jakarta 5Feb08

Menyatu dengan liat membusukkan diri membangun negeri

Bernafas didalam lumpur
Bermandikan sampah di dasar kasur
Menggeliat menyambut hari
Tidak pernah berbicara satu sama lain

Meratap pengasih dari sang mentari
Memberikan apa yg telah terjadi
Menyatu dengan liat membusukkan diri membangun negeri

Jakarta 5Feb08

Saturday, February 02, 2008

"SELAMAT HARI RAYA BESAR IMLEK"

Imlek sebentar lagi kusambut
Segala macam tata rias rumah terus di rajut
Sampai pada hari 'H'

Sinar bulann purnama sidhi berharap menerangi
Membawa peruntungan yang terus di ratapi
Sampai pada hari 'H'

Tionghoa merayakan dengan penuh senyum
Semuanya bersalaman menghadap ekonomi yang terus menerus menggulung.

"SELAMAT HARI RAYA BESAR IMLEK"

Kalian adalah bagian dari Indonesia.
Tanpa tionghoa tidak ada indonesia.
Tanpa indonesia tidak ada tionghoa-indonesia.

Friday, February 01, 2008

Tanpa panas dan hujan terpuaskan mata bathin

Jakarta tergenang air.
Sebuah kota metropolitan, pusat dan peluang bisnis tergenang.
Tergantung siapa yang melihat.
Tergantung siapa yang menggantung.

Aku mungkin salah satu korban yang mampu menikmati.
Melangkah kan kaki diantara rumah2 tua sekitar kota mati.
Membelah pusaran air dgn kaki menciut merinding.
Siapa yang sangka dibalik air kotor yang mengalir, dalam kesempatan itulah
tanpa panas dan hujan terpuaskan mata bathin.

Jakarta Kamis, 01 Februari 2008.

Thursday, January 17, 2008

begitulah yang muncul dihati

ramai penjaja busana
memberikan aroma yang bernuansa
hiruk pikuk org berjualan
membawa atmosfir yang menjual

sang cung kwo dibawa cu kong meneriakan pilu dihati.

seperti awan saat ini yang menyelimuti jkt
tidak hujan tidak terik
matahari pun tidak muncul
bulan pun tidak terlihat

begitulah yang muncul dihati

Friday, January 04, 2008

Dendam kesumat pada gedung2 tua yang mengusang?

Kalau dulu aku sering ke semarang, turun di stasiun tawang.
Menerawang di tengah malam.
Yang ada hanya kumpulan hitam yang kelam.

kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi?
Haruskan dosa penjajahan dimasa lalu juga melibatkan dendam kesumat pada gedung2 tua yang mengusang?