Sunday, June 24, 2007

Sehingga kembali kepada peradaban

guratan hati terobati
sayatan hati kembali terlapisi
setelah sekian lama tidak hadir sekarang kembali

masih seperti dulu bung Adep.
tidak pernah terukir perubahan mengendap
tetap semangat dan tidak gagap
senyum seorang budayawan tidak pernah membawa dunia gelap

perjalanan terik tidak terhiaraukan
serasa mandi ditengah ke tamakan
semoga situs sejarah dapat menahan ketamakan
sehingga kembali kepada peradaban

Friday, June 22, 2007

Melakukan pembunuhan berantai untuk memerangi kebodohan.

Tiada lagi marga ...
Tiada lagi yang memacu semangat ke margaan ...
Yang ada hanya kepedihan,
Disaat orang yang sama kulitnya dan matanya
harus terus menerus terpojok oleh kemurkaan diskriminasi

Kalau sampai ada yang mengangkat bendera perdamaian
Kalau sampai ada yang membumbung semangat ke margaan
Diriku akan menjadi orang pertama mengangkat lengan
Menyingsingkan masa kelam dalam sebilah pisau ke intelectualan
Melakukan pembunuhan berantai untuk memerangi kebodohan.

Thursday, June 07, 2007

Peradaban manusia indonesia seutuhnya.

malam menerawang di tengah lampu jalanan
menghimpit anak muda yang memiliki kemajuan bermuda
duduk diantar para petinggi perkumpulan membahas keadaan yang berangkat dewasa
menjulang suatu impian yang tidak lagi bersinggungan.

mata memandang sejauh impian ku melambai.
harapan untuk menetralisir keadaan berakhir dengan pemampatan pembicaraan.
menganggap remeh ide membuat mata bahitn ini murka
kenapa mereka yang ku sanjung justru membungkam ku dalam keadaan hidup2.

kawan ... masih sucikah perjuanganmu membangun indonesia yang mandani
atau mmemang masih berada dalam angan - angan juga saat ini.
atau memang aku telah salah membuatmu sebagai bagian dari tulang ku

kawan ... masih disanakah kau, yang dulu menjemputku diperempatan meja makan malam.
mengajakku berbuat untuk mendamaikan negeri yang ngeri ini.
membangun indonesia baru yang terbebas dari kebodohan yang berakar.

kawan ... dimanakah hati nuranimu sekarang
jujurlah padaku wahai kawan ku ... aku pasti memaafkanmu walau kau telah ingkari
merah darahku dan putih impianku.

aku masih seperti dulu .. yang menunggu diujung perempatan jalan
berteman pada sang kelakar yang menyimpan ide serta impian menuju kepada kemajemukkan peradaban manusia indonesia seutuhnya.

Sunday, June 03, 2007

Peninggalan sejarah tionghoa sangat menyentuh hati.

Peninggalan sejarah tionghoa sangat menyentuh hati.
Panas terik tidak sama sekali membuat kami berjerit.
Berkumpul di Mc Donald gajah mada jam sepuluh pagi.
Molor sampai jam dua belas siang baru jalan.

Empat kendaraan satu persatu kami tumpangi.
Bersama Alex, Jerry, dan Wahyu dari JTM.
Ditanggapi oleh kepiawaian beberapa rekan dari Tnet dan Budaya tionghoa.
Membuat suasana menjadi marak.

Segala usia mewarnai kumpulan ini.
Berbagai intellectual terus berkumandang dengan estafet.
Dari skala ringan sampai skala besar menjadi ajang adu intellectual.
Aku senang … terasa bahwa pengetahuan adalah kekal.

Jarum jam menunjukkan jam dua belas siang.
Berangkatlah kami ke Candranaya, sang biduan di tengah dinamika perkembangan suasana kota yang metropolis yang selalu berpolitis.
Masih hidup seperti dulu.

Harapan hanya bisa menatap dari atas jembatan penyebrangan mewabah semua instrument keadaan pikiran kami ber 15 orang kurang lebih.
Sungguh gempita hati ini disaat seorang Martin bersama Alex menerobos masuk dengan gaya diplomatisnya yang tidak pernah bisa ku bayangkan.

Kaki berbalapan dan senyum melebar menghias pelarian ku menghampiri kendaaraaan yang tadinya ku berpikir kalau tidak mungkin ku bisa mengambil gambar dan paling tidak hanya membangunkan kesedihan yang sangat mendua dalam dunia.

Bagaimana tidak kawan?
Awal sekolah apoteker pertama di Indonesia berawal dari sana.
Awal pendirian rumah sakit juga berawal dari kongko di gedung sakit tersebut.
Awal pendeklarisian merah putihnya tionghoa sehidup semati terhadap NKRI berawal juga disana.

Masuklah kami kedalam nya,
Suasana haru menghias dalam setiap tapak kaki melintas lapisan semen penuh dengan pasir hasil perkerjaan sipil yang telah usang bercampur debu2 kehidupan.
Berpencar kami semua.

Aku berlari mengejar pintu gerbang.
Seolah ku sedang bertuan pada kakek moyang ku yang mengabdi pada negri.
Guratan nyata masih menyinar ...
Sampai keruangan tengah …

Luar biasa … gelap … tidak berbau sedap
Ornament ornamen kejayaan ukiran yang kurasa ada makna menghias di dinding setiap pintu.
O waktu .. .terimakasih kau telah memberikan kami waktu untuk kembali melihat jejak sang leluhur yang mengabdi pada negri.

Seolah janji dan sumpah mu masih kurasa kemarin.
Terpancar sedih melintas di wajah seorang budayawan Budaya tionghoa,
Berasa seperti kemarin dia melintas pada kehidupan terdahulunya.

Masih bisa kurasa kalau kau bilang sedih kawan.
Masih bisa kumengerti kalau kau bilang benci kawan.
Aku pun merasa demikian.

Sang waktu maha adil, tidak pernah meninggalkan pengikutnya yang setia.
Malah sang pengikut yang sering meninggalkan waktu dan berpaling pada keindahan dari negeri 4 july sebagai hari merdekanya.

Selesai sudah kami disana,
Cukup lama kami ber cerita sampai lidah tidak lagi bersahabat.
Lebih dari dua batang rokok ku habiskan hanya untuk membuat diriku dan angan2ku puas atas keindahan surga dunia budaya.

Setelah itu kami ke Tepekong petak sembilan.
Tempat dimana pertama kali tionghoa membuat kelenteng hanya untuk melepas kerinduan pada tanah leluhur yang tidak pernah mungkin akan kembali di cintai.
Sekaligus menghampiri dan berduduk bersipu lapar disaat hari menjelang sore.
Bernuansa keteduhan gereja tua yang ber aroma etnik tionghoa
Gelak tawa menghias … seduhah kopi bergumul lidah tidak bertuan.

Nasihat dan petuah bahu membahu membentuk kajian intellectual untuk membangun saling mencintai sesama generasi yang berhamburan pengalaman dan ketajaman dalam berpikir.

O waktu …
Telah ku lihat kembali masa kejayaan mu wahai candranaya
Telah ku lihat lagi masa indahmu wahai tepekong petak sembilan
Telah ku lihat berulang kali masa keindahan penyebaran katholik dalam keharmonisan gereja siti de fatimah.

Tunggu kami
Jangan kau tinggalkan kami
Berikan kami waktu untuk mengetuk lapisan ketujuh dari bumi ini sekedar membangunkan anak nusantara untuk membangun negeri dan tidak meninggalkan budaya kami sendiri.

Bertahanlah wahai candranya
Tanpamu Indonesia tidak akan pernah ada dan
Kami pun tidak akan pernah terlahir.

Thursday, May 17, 2007

Bertanya pada Sang Khalik

Mei bukan hanya milik amoi
mei bukan hanya milik malik
mei milik Sang Khalik.

Tetapi kenapa kau bumi hanguskan sebuah etnik
dan kau hancurkan secara tidak heroik.

Kau adu domba sesama anak negeri
layaknya imunisasi dalam sewaktu sekali
kau tebarkan kebencian di tengah suasana sulit.

Bisakah kita, kau, dan kami duduk memandang langit?
bertanya pada Sang Khalik,
siapakah sesungguhnya pemilik bulan mei dalam pelik?

Catatan seorang Tionghoa Jakarta di bulan MEI tahun 1998


Catatan seorang Tionghoa Jakarta di bulan MEI tahun 1998
Kegelapan malam menghilang

Kesiangan kembali menghadang
ketika kusadari waktu telah berganti karna begadang

kusambut hari dengan berdagang.


Indahnya metropolis menghardik kesulitan ekonomi

Papan yang berjejer rapi sepi pembeli

tak urung jua kubermimpi
suatu hari kesuksesan bisa kudapati
.

ribuan orang berkumpul ditengah ban berapi

melihat guyuran tatapan yang tak henti
membalikan badan sambil berteriak memaki
' cina ... cina ... bakar cina '.

terbiasa dengan kunjungan orang membeli dagangan
melayani satu persatu melalui penerangan

ribuan tangan mulai menerawang

ribuan tangan mulai menggerayang.


badanku tidak kujual
daganganku yang kujual

kenapa badanku yang kau jagal

dan daganganku kau obral.


seperti hari ini ... aku tertidur dengan orang yang tidak ku pernah
bisa rangkul ... Kuburan massal TPU pondok rangon, jakarta timur.

Tuesday, May 15, 2007

Dengan kelentikan PURNAMA DI BUKIT LANGIT kami melukis


kau jarah harta benda kami
kau ingkari jasa kami
kau kambing hitamkan kami

kami menangis ...
kami meringis ...
di Nusantara ini kami mengais
dengan kelentikan PURNAMA DI BUKIT LANGIT kami melukis

Tuesday, May 08, 2007

mungkin tidak ada karya yang tidak ku perbuat untuk yang di atas.

kalau saja kubisa berbuat lebih
mungkin tidak ada hari tanpa perubahan dunia
kalau saja kubisa bertemu lebih
mungkin tidak ada hari tanpa kacamata dunia

seandainya waktu menyisihkan sedikit keasyikan dalam bercinta
mungkin tidak ada hari tanpa berasmara
seandainya waktu menyisihkan sedikit atas usiaku yang terbatas
mungkin tidak ada karya yang tidak ku perbuat untuk yang di atas.

Thursday, May 03, 2007

Padamu negeri kami mengabdi

Panas jalan tidak menghambat pa ogah berjualan jasa penyebrangan di perempatan
Keringat bersantap kulit dan rambut kecil menyayat nadi kehidupan
Penyedia kesempatan akan mendapatkan tempat yang layak semangkin marak
Berawal dari protokol upacara sampai dengan yang diperempatan jalan.

Mungkin inilah wajah negri kita
Selalu berusaha menyediakan pelayanan akan apa yang bisa disediakan
Memperbudak diri untuk menyediakan keadaan akan kehadiran pendatang
Bertingkah sesuai procedure untuk anak negri tapi ber pola praktis bagi pendatang.

Inikah yang disebut dengan 'Padamu negeri kami mengabdi'?



Friday, April 27, 2007

Buat Uly dan team


Buat Uly dan team

Kartini dan Kartono nama saling berkaitan.
Lintas malam lintas kehidupan.
Memandang dari kejauhan adalah kepalsuan.
Merambah dari kemelekatan adalah ketakutan.


Berpangku tangan menantang matahari esok.
Berdiam diri dan mengemukakan pikiran sesuatu tidak terelakan.
Egoisme intelectual biarlah menjadi pendiam yang tergelatak.
Berjalan dengan kaki telanjang merupakan penolakan akan pengkotak2an.


Memberi penilaian terhadap diri kita sendiri melalui perdebatan.
Membuat pembungkaman bibir tipis menjadi madat dalam keterkaitan.
Berbuat dan berucap merupakan kaitan jati diri ketidak puasan.
Salut untuk kawan dan saudaraku di tegal alur sana yang menjadi pemikir di milist.
Tetapi berbuat di realitas atas nama hati dengan pedoman nurani tanpa institusi tertulis.

Tinggal cerita kesiangan


Jakarta hari ini hujan lagi.
Masih berasa kejadian kemarin.
Tidak ada kerabat.
Tidak ada sobat.
Sendiri memandang arus air yang lewat.

Lebih dari sejam hujan turun dengan deras.
Hanya bisa memandang arus yang selaras.
Tidak mampu menahan ketakutan.
Berbondong2 warga mengulang kembali upaya penyelamatan.
Diparkir dengan rapi kendaraan beroda empat, diujung perempatan.
Berharap tidak terbanjiri tetapi
berdoa agar bandang tidak terulang lagi.

Sampai kapan kami harus terus menerus seperti ini?
Siklus lima tahunan adalah jawaban terkini.
Tetapi hidup kami bukan untuk lima tahun saat ini.
Kami juga manusia yang senantiasa berjuang untuk mengimbangi kehidupan terkini.

Kelapa gading akankah nasibmu seperti gading di tengah kekeringan.
Tinggal cerita kesiangan dimana ditemukan hanya ke ngerian akan
bandang yang tidak tertandingi.

Wednesday, April 25, 2007

Langkah tegas dalam menyalurkan tekanan manusiawi ini.

Pelega dahaga cinta dan kemesraan pun dijualnya.
Keindahan bercinta pun menjadi santapan pergulatan.
Kaum Pria dikatakan sebagai pembeli pertama yang meramaikan.
Tetapi terlintas kah kita bahwa semua ini adalah fenomena alam
yang bisa dikaitan dengan 'bencana nasional'.

Belom ada satu pun pemimpin bangsa selama kemerdekaan
Menyatakan perang dengan pelacuran.
Belom ada satu pun pembuat keputusan mengambil
langkah tegas dalam menyalurkan tekanan ini dengan lebih manusiawi.

Monday, April 16, 2007

Kalau siang ditemani bohlam rasanya seperti pecundang

Kalau malam ditemani bohlam rasanya kurang
Kalau siang ditemani terang rasanya girang
Kalau malam ditemani terang rasanya tenang
Kalau siang ditemani bohlam rasanya seperti pecundang

Saturday, April 14, 2007

Mungkin hanya harapan untuk dirinya agar membusuk

Kalau sampai waktu tidak memberikan ku izin untuk merauk,
Mungkin hanya darah yang bisa ku sauk.
Kalau sampai karyaku disauk,
Mungkin hanya bisa kepala yang kugaruk.

Kalau sampai abdi ku mengamuk,
Mungkin pawang pun tak sanggup mengutuk.
Kalau sampai kawanku sendiri yang menusuk,
Mungkin hanya harapan untuk dirinya agar membusuk!

Friday, April 13, 2007

Meninggalkan generasi pecundang adalah kemanusiaan.

Kemiskinan merambat kerap,
Ketakutan menyatu dalam derap,
Keindahan akan kebahagian terus menggelap,
Tetapi nafsu terus menggeliat.

Kemandirian kapitalis membeli semua slogan kesurgaan,
Kemajuan pemikir konservatif menyandang gelar kesarjanaan,
Mengembangkan kemajuan yang mandiri dan bersahaja,
Melupai yang tidak bisa mengikuti semuanya.

Kemandiran yang hakiki hanya bisa berjalan di atas hati nurani,
Kemajuan intelectual hanya bisa berjalan untuk mendobrak tirani,
Meremajakan pemikiran yang sadar akan kebersamaan adalah keinginan,
Meninggalkan generasi pecundang adalah kemanusiaan.

Tuesday, April 03, 2007

Pengajar

Bimbingan belajar membanjir disetiap pelosok
Menjual impian akan masa depan yang sudah terseok seok
Slogan untuk membangun negri tidak lebih dari pelarian
Mencetak anak bangsa yang cerdas ala pengeksplotisian

Bukan kah seharusnya penguasa menyadari
Anak negri adalah asset tak tertandingi
Kenapa engkau meninggalkan kami disaat kurikulum menghimpit ?
Peremajaan mata pelajaran tidak ada artinya tanpa kesejahteraan yang selalu terjepit.

Sunday, April 01, 2007

Palungan

ku kedepankan negri membangun sanubari
ku kedepankan bangsa membangun kebersamaan
caci dan puji mengiang disela kesendirian dan keramaian
daun tubuh memerah menahan ketidak kekalan
dihargai atau dihilangkan adalah paket perjuangan

tidak ada yang mampu memilih disaat kebangsaan kembali meraung
tidak lain tangis dan kelahiran kembali menggaung
membangun kebersamaan dan keindahan Ke Bhinnekaan dalam palung

Tersisih

sulit sudah rasanya menyisakan nafas untuk hari esok
letih menghirup ketidak nyaman bathin melihat besok
tersingkir dalam pelukkan
terjaring dalam terpurukan

menghindar dari permainan
menghujam yang ada dalam keindahan
harapan menjadi satu bagian
terkadang tersisih dalam kegilaan perpisahan

Thursday, March 22, 2007

Tirani

Langit cerah
Panas teriak meneriaki perjalana ke tanah pengetahuan.Masalah identitas adalah masalah klasik setiap manusia yang terlahir di bumi.Ibarat seorang anak yang mendambakan Air susu ibunya disaat terlahir.
Banyak petinggi melihat bahwa identitas adalah bukan masalah.Banyak perendah melihat bahwa identitas adalah masalah.Kenapa?
karna yang rendah ingin melihat apa yang di rasakan oleh petinggi.karna yang tinggi telah melihat apa yang bisa dijadikan pengganti oleh krisis identitas.
Nilai tukar sekali lagi bermain disana.Kertas dan logam menjadi teman yang setia.Tidak bisa dipungkiri keberadaannya menjawab semua perilaku negatif yang diterima disaatkalah bersaing.
Disaat Sang tanah berkumpul menjadi satu, di tanaminya tanaman untuk mengambil sarinya.Membuahkan buah yang dinikmati yang menanamnya.kalau dianologikan seperti itu, dimana yang sebenarnya kita berada kawan?
Tanah !Itu yang tepat !Mau sampai kapan Sang Tanah ini hanya memberi tanpa tahu harus membuahkan hasil seperti apa yang mereka kehendaki.Itulah kita, tionghoa yang hidup menjadi kaum miskin perkotaan.Hempasan peraturan merobek tradisimu.Gempuran Celurit membuang jantung nafas mu ke padang pasir.Dengan gebukkan beduk di subuh,Satu nyawa melayang di gantung di tiang kematian yang tidak pernah tidur.
Jakarta dan Indonesia adalah tiangnya.Bangkit dan lawan serta menangkan setiap gesekan dari adu domba SANG tirani!

Tuesday, February 13, 2007



Personel ketentaraan diturunkan
Untuk mengkasihani para korban
Lemparan lemparan tuntutan kehidupan bersautan
Tangan tangan yang terbiasa menghitung uang mendadak meminta belas kasihan
Tidak terselip satu pun kebencian
Tidak teruangkap satu pun kemunafikan ... seharusnya ...
Berjejal kotak - kotak berdoa mencari daratan
tanpa perduli kejauhan.
Terbentang hati nurani melihat kode aparat ikut menyelamatkan harta benda
Semoga kau menyingkirkan asset negara untuk menyelamatkan sesama penghuni negri.