Tuesday, March 30, 2010

Berbuat atas nama humanity


Mungkin dia tidak wangi
Mungkin dia tidak memanggil orang untuk menghirup baunya.
Tetapi dia sangat bermakna bagi mahluk hidup di dekatnya.

Mungkin dia tidak mengundang untuk di biakan
Mungkin dia tidak mengundang untuk petik bunganya
Tetapi dia sangat bermakna bagi mahluk hidup di sampingnya.

Oh teratai dan melati air.
Ketika kau tumbuh berkembang bagaikan mentari pagi
Kau yakinkan pada dunia, bukan harum nya yang kau jadikan corak
Tetapi rupa yang membuat diri lingkungan yang melihat senantiasa tersenyum akan keindahannya.

Oh teratai dan melati air.
Seandainya semua manusia mengembangkan kalian sampai kedalam sanubari nya masing - masing.
(Mungkin) tercipta suatu keadaan yang manusiawi, Bicara sedikit,berbuat banyak.
Berbuat atas nama dunia
Berbuat atas nama humanity

Senayan,30 Maret 2010
Steeve Haryanto Souw




Sunday, December 27, 2009

Sekedar coretan di batu Nisan nya.

Mereka terbaring dalam pusaran tanah liat.
Nisan mereka menggambarkan apa yang pernah diperbuat.
Segala prestasi telah diraihnya di masa ke emas an kehidupan.

Tidak mudah terlahir menjadi manusia.
Tidak cukup hanya satu kehidupan untuk menjadi seorang manusia.
Dan mereka menghargai itu.

Pendeklarasi Judge Bao Indonesia (Yap Thiam Hien) tidak berakhir di jalur bus way,
Penemu Idealism negarawan (Soe Hok Gie) tidak juga berakhir dalam kesengsaraan
Tetapi terbaring dalam naungan nisan akan keberhasilannya dililit oleh tanah liat nan lunak.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu diri akan yang telah tiada.
Negara yang besar adalah negara yang tahu malu untuk merawat telah menjadi asset bangsa,
Baik pilar - pilar kehidupan berbangsa dan bernegara mau pun sekedar coretan di batu Nisan nya.

Monday, December 21, 2009

Ketika semuanya sudah berpulang.


Terlalu enggan tuk bercerita
Terlalu sungkan tuk berkata.

Menatap teratai sampai ke ketepian
Mengembang ditengah kehidupan.

Tiada yang mungkin bisa diulang
Ketika semuanya sudah berpulang.



Steeve Haryanto Souw
Senayan, 21 Desember 2009

Saturday, October 31, 2009

Hanya untuk ber ucap 'Terimakasih'

Melihat panas mentari di antara ruas jendela rumah
Menghantar ku pada suatu kenyataan.
Bahwa sebenarnya kita sedang berlindung diantara pemberian NYA.

Bukan kah kita sadar
Bahwa panas mentari juga anugrah NYA kepada kehidupan ?
Kenapa kita banyak yang berlindung ...

Beranikah kita berdiri diantara pemberian NYA ?
Hanya untuk ber ucap 'Terimakasih'

Steeve Haryanto Souw
Kartini,31 Oktober 2008.

Monday, September 21, 2009

Itu adalah proses alam.

Disaat sungai membelah gundukan perbukitan.
Terlihat ketidak mampuan nya untuk menahan lajunya air deras membentang.
Ku melihat begitu lah proses alam sebenarnya.

Disaat awan menyelimuti langit dengan kepekatannya
Terlihat titik titik bintang memberikan celah pada sinarnya.
Ku melihat begitulah proses alam sebenarnya.

Tidak diminta ...
Tidak diperkirakan ...
Tidak juga dibayangkan ...

Ketika terjadi suatu bencana atau pun berkah datang secara tiba - tiba.
Itu adalah proses alam.

Senayan, 21 September 2009
Steeve Haryanto Souw

Friday, August 07, 2009

Menjadikan mu sebagai tempatnya ber ternak.

Wajah mu kulukiskan sebagai foto mendiang mu
Keringat mu kulukiskan sebagai darah korban mu
Tangan mu kulukiskan sebagai penghunus emosi mu

Dan ...

Bau tubuh mu tidak lebih dari rayap yang menggrogoti nadi mu
Ku panjatkan sumpah semoga belatung - belatung dari berbagai kehidupan senantiasa menjadikan mu sebagai tempatnya ber ternak.

Sunday, July 26, 2009

Merayap melebihi hewan melata semelatanya.

Berawal dari lumuran lumpur bertajuk anak bawang
Meniti kehidupan sedari awal dengan menapaki tanah lapang

Beralas mental
Tidak berkompas sedari awal

Menggenggam segala keyakinan
Menangkap yang sudah terjungkal
Sehingga kembali bermental

Apa alam kiranya tidak lagi berkawan?
Sehingga ku harus merayap melebihi hewan melata semelatanya.

Senayan 26 July 2009

Steeve Haryanto Souw

Wednesday, July 15, 2009

Tidak terlahirkan ditengah gurun kesengsaraan.

Inginnya ku menatap langit tidak lagi berkedip.
Inginnya ku membawa bulan, tidak lagi termegap megap.

Bagaikan burung yg bebas kian kemari, menembus langit ke tujuh.
Menghirup udara bebas melampaui yg teratas dari lingkaran setan.

Tetapi apa daya aku hanya seorang manusia, yg lagi2 adalah merupakan salah satu ciptaannya dengan segala kekurangan yg menjadi kelebihan.
Berdoalah untuk sang DUNIA, agar penantian anak manusia nan suci tidak terlahirkan ditengah gurun kesengsaraan.

Sunday, July 12, 2009

Penghargaan dari dunia dan alam.

Tanyakanlah pada dunia, apa yg kita harus perbuat hari ini?

agar kita selamat dari murka nya alam.


Tanyakanlah pada illahi, apa yg kita harus hindari hari ini?

agar kita selamat dari seleksi alam.


Tanyakanlah pada diri kita sendiri, apa yg kita harus pikirkan,perbuat,dan berucap?

agar kita mendapatkan penghargaan dari dunia dan alam.


Senayan,
12 July 2009

Sunday, June 21, 2009

Perjuangan ku akan hidup bersama dunia

Terakitlah sebuah kereta berlapis emas kemilau.
Sinarnya menyayat mata hingga hati yg melihat.

Kutemukan suatu gagas untuk kembali merakitnya lebih baik.
Walau asa dan usia kian menipis.

Kurangkul mimpi.
Kuseret ketepian.
Dimana kudapati ruang untuk menempatkan nya pada titik terakhir perjuangan ku akan hidup bersama dunia.

Saturday, June 20, 2009

Melampaui ujung gunung terakhir

Banyak kata yg tak mampu ku tuliskan pada dunia ini.
Hembusan nafas melambungkan mimpi semangkin meninggi.

Kemungkin akan kegagalan akan menjadi kenyataan.
Kemungkin akan keberhasilan akan menjadi impian.

Langkah selanjutnya adalah mempertebal semangat
Mempertinggi derajat dan martabat yg manusiawi melampaui ujung gunung terakhir.

Tuesday, November 04, 2008

Mengais belas kasihan kehitaman malam sama seperti dirinya hitam muram kusam.

Dingin menyengat membawa alunan hitam menjilat tenggorokku
Mendelikan mata melihat batas pantat membelalak disinari lampu jalanan
Kuning kusam, gelap menghimpit
Wanita berjenis kelaminnya.

‘tidak dingin kah kau berjalan seorang diri di malam sehabis hujan’
kusangka hanya sebuah bayangan seorang yang baru pulang dari sebuah pesta ria gembira
ternyata kusalah sobat

dia hanyalah seorang wanita penjaja kelamin untuk bertahan hidup
tidak seberapa kulihat wajahnya
tetapi yang pasti wajah nya hanya sebagai pelengkap sebagai seorang manusia.
Harkat dan martabat dirinya telah terhempas ke dasar selokan paling kotor
Mengais belas kasihan kehitaman malam sama seperti dirinya hitam muram kusam.

Kartini
04.11.2008
Steeve Haryanto Souw

Mewartakan kedamaian akan hidup sederhana tetapi pasti

Airnya menyentuh sampai lapisan terdalam diriku
Dapat kurasakan dia mengalir lambat dan membisu
Merayap menelusuri setiap jengkal dari apa sudah tercipta
Melumurinya dengan dingin yang biasanya terik menghujam.

Membiarkan kulit diri ini retak
Perpindahan dari dingin ke panas yang telah mengerak
Menembus pori – pori kehidupan
Menyentuh saraf – saraf terkecil yang ada didalamnya.

Begitu pula dengan perjalanan hidup ku
Menyebarang lautan meninggalkan yang telah ada
Menyembelih hati sekaligus mengukir yang baru
Mewartakan kedamaian akan hidup sederhana tetapi pasti.

Kartini
04.11.2008
Steeve Haryanto Souw

Sunday, August 24, 2008

Nasi yang hanya berupa penampakan.

Kalau pagi menjelang
Malam pun menghilang
apa artinya pagi dan malam?
Kalau terus menerus merindukan
nasi yang hanya berupa penampakan.

Senayan, 23 Agustus 2008
Steeve Haryanto Souw.

Tuesday, June 17, 2008

Dan menjadi tuan rumah di lobang pembuangan


Terhimpit ku menjerit
Tertampat ku menggeliat
Mati dalam genggaman cita2
Mati dalam hisapan pasir ber lumpur

Boleh kah ku sedikit berkelakar
"BBM naik lagi, asik jalanan jadi sepi pengendara"

Jutaan pengangguran akan terjadi
Tiga ratus juta penduduk indonesia akan kembali di rumahkan
Dan menjadi tuan rumah di lobang pembuangan.

Steeve haryanto souw
Senayan 17 June 2008.

Thursday, May 29, 2008

Tetapi yang kutau, aku setia pada negeri ini.


Ketika waktu terasa senja
Waktu berganti,malam pun menjelang

Tidak terasa tanah ini kuinjak selama
ratusan tahun.

Bermata sipit dan berkulit kuning
bukan lagi ciri khas ku.
Sawo matang katanya.


Rasanya baru kemarin soekarno
berpidato didepan orang banyak
kalau Indonesia telah merdeka.


Mengkumandangkan dasar negara.

Mengibarkan bendera sang pusaka.

Tidak tahu apa arti yg diingikannya.

Tetapi yang kutau, aku harus setia
pada negeri ini.

Steeve haryanto souw
Senayan 29 may 2008

Monday, May 19, 2008

Menghadirkan nisan bertuliskan pahlawan reformasi.

Senja telah tiba
Awan meliputi keheningan di tengah hutan beton berjajar.
Jeritan nya masih terasa disaat hingar bingar bunyi ledakan terjadi
Menggaung membinasakan anak manusia.

Anak manusia yg akan menjadi anak bangsa
Menopang almamater menghadirkan kesegaran dalam demokrasi Pancasila
Tewas diterjang timah panas.

Jasadnya kini membumi
Menghadirkan nisan bertuliskan pahlawan reformasi.

Friday, May 16, 2008

Penghidupan yg baru.

Berabad abad katanya kau di jajah
dibawah bedil kompeni
Benarkah itu?

Berabad abad katanya kau makan dan beranak
di liat ini.Sehingga kau namakan batavia sampai
ke Jayakarta.
Benarkah itu?

Berabad abad katanya kau mencari ongok2 kehidupan
meneteskan keringat untuk setiap jengkal kekosongan
dari perut mu.Sehingga kau katakan aku pribumi
dan kau pendatang.
Benarkah itu?

Boleh lah sedikit ku patahkan tulang tengkorak lehermu
sehingga ku bisa menghentikan pemikiran udang mu itu.

Nusantara ini tidak pernah dijajah oleh kompeni.
Kompeni datang karna tanah in tidak bertuan.
Kalau tanah tidak bertuan siapa pun datang untuk
penghidupan yg baru.

Kelapa gading 16 May 2008
Steeve haryanto souw

Thursday, May 15, 2008

keimanan yg hakiki melebihi kedinginan ditengah padang es sekalipun.

Dihadirkan pada pilihan

Maju akan menjadi beku dan dingin
berselimut kain kafan.
Mundur akan menjadi tiang garam dimana
akhirat akan menjadi taruhan.

Tidak maju dan tidak mundur
Berdiri ditengah tengah akan
menjadi sebongkah pohon pisang yg
tidak pernah bertunas.

Yang disadari hanya kenistaan yg
harus nya di brangus oleh kucuran
keimanan yg hakiki melebihi kedinginan
ditengah padang es sekalipun.

Kelapa Gading 15 May 2008
Steeve haryanto souw

Nisan yg kuanggap sebagai persembahan terakhir dari nya pada dunia

Ketika kubaca bk tentang riwayat seseorang
terdesir rasa ingin sepertinya.
Ketika kucoba jalani seperti apa yg seseorang
tersebut lakukan tersirat dirinya bukan lah diriku.

Diri ku adalah diri ku
Diri nya adalah diri nya

Kusadari tetapi tidak mampu kutandingi
Bahwa mereka hidup di jaman yg bisa
Kulihat banyak kemudahan dan kesulitan.

Aku bisa melihatnya dengan mudah diatas kertas

Disaat menjalani tanpa suara
Tanpa ada seorang pun yg menulis tentangnya

Mungkin kah namanya senantiasa terukir diatas
nisan yg kuanggap sebagai persembahan
terakhir dari nya pada dunia?

Kelapa Gading 15 May 2008
Steeve haryanto souw

Wednesday, May 14, 2008

Malah sekarang kau belai dengan belati sekaligus kau binasakan.

Disaat ku berdiri bertelanjang kaki
kurasakan panas alas merambah hingga ujung kepala.

Itu hanya kaki kita kawan
dimana tercipta sebagai penopang organ diatasnya.

Bayangkan kalau panas alas tersebut adalah timah yg dibungkus dalam
lempengan baja yang merambah dengan paksa di ujung kening kita.

Bukan lagi kekakuan yg terjadi melainkan
kenistaan atas kemanusiaan yg telah ter gulir.

Berhentilah menjilat wahai pemegang timah panas.
Rakyat mu sendiri yg ku jejali dengan benda itu.
Rakyat yg seharusnya kau bela
Rakyat yg seharusnya kau bina

Malah sekarang kau belai dengan belati sekaligus kau binasakan.

Ketika ku harus menunggu semestinya aku hanya duduk terpaku.

Ketika ku harus berdiri semestinya
aku tidak melangkahkan kaki.

Anak kami turun kejalan dengan mental baja
menghardik ketidak adilan dalam kurungan orang2 bersahaja.

Sekarang mereka telah terbujur kaku Bermandikan kembang penabur diatas altar. Tanpa sepasang canting keadilan yg bisa kusampaikan.

Selamat jalan anak2 ku semua
Sepuluh tahun sudah ku lewati
tanpa setitik pun aku menyerah
mengharap keadilan yg belum terhadirkan.

Kelapa Gading 14 May 2008

Tuesday, February 26, 2008

Penghujung kebahagian abadi - Untuk mu Papa

Pancaran cahaya lampu jalanan menembus kulit kepalamu yg tipis tertutup rambut.
Warna mu kini sudah melekat dengan hamparan aspal jalanan.
Tidak terawat, menyimpan segudang garam
Pahit getir pertahanan diri.

Bagai menghardik lolongan anjing hutan
Ditengah malam hitam menggeliat.
Masih terasa di bathin ini dekapan tanganmu
Kehangatan pengasihmu pada ku.

Tidak terasa kini kau telah renta
Usia mu telah lanjut.
Wajahmu kian pasi.

Pasrah pada keberadaan dunia
Menunjuk arah kehidupan pasrah mu.

Oh Putra langit
Aku sangat menyanyanginya.
Berikan waktu sedikit longgar untuk membawa nya pada
penghujung kebahagian abadi.

Tuesday, February 05, 2008

Layaknya barisan baret hijau menghardik bibir dan dubur sang manusia.

Melihat segores senyum di bibir tipis
menepis keraguan akan kemurkaan

Menutupi diri dengan kacamata hitam
menepis keraguan akan kesirikan

Memandang melanjutkan mimpi yg terputus
masih kusanggah akan terjatuhnya peluh

Ingin rasanya kurenggut dan kuhancurkan dalam kepalan tanpa
terbiaskan rasa kemanusian yg manusiawi

Layaknya barisan baret hijau menghardik bibir dan dubur sang manusia.

Jakarta 5Feb08

Menyatu dengan liat membusukkan diri membangun negeri

Bernafas didalam lumpur
Bermandikan sampah di dasar kasur
Menggeliat menyambut hari
Tidak pernah berbicara satu sama lain

Meratap pengasih dari sang mentari
Memberikan apa yg telah terjadi
Menyatu dengan liat membusukkan diri membangun negeri

Jakarta 5Feb08

Saturday, February 02, 2008

"SELAMAT HARI RAYA BESAR IMLEK"

Imlek sebentar lagi kusambut
Segala macam tata rias rumah terus di rajut
Sampai pada hari 'H'

Sinar bulann purnama sidhi berharap menerangi
Membawa peruntungan yang terus di ratapi
Sampai pada hari 'H'

Tionghoa merayakan dengan penuh senyum
Semuanya bersalaman menghadap ekonomi yang terus menerus menggulung.

"SELAMAT HARI RAYA BESAR IMLEK"

Kalian adalah bagian dari Indonesia.
Tanpa tionghoa tidak ada indonesia.
Tanpa indonesia tidak ada tionghoa-indonesia.

Friday, February 01, 2008

Tanpa panas dan hujan terpuaskan mata bathin

Jakarta tergenang air.
Sebuah kota metropolitan, pusat dan peluang bisnis tergenang.
Tergantung siapa yang melihat.
Tergantung siapa yang menggantung.

Aku mungkin salah satu korban yang mampu menikmati.
Melangkah kan kaki diantara rumah2 tua sekitar kota mati.
Membelah pusaran air dgn kaki menciut merinding.
Siapa yang sangka dibalik air kotor yang mengalir, dalam kesempatan itulah
tanpa panas dan hujan terpuaskan mata bathin.

Jakarta Kamis, 01 Februari 2008.

Thursday, January 17, 2008

begitulah yang muncul dihati

ramai penjaja busana
memberikan aroma yang bernuansa
hiruk pikuk org berjualan
membawa atmosfir yang menjual

sang cung kwo dibawa cu kong meneriakan pilu dihati.

seperti awan saat ini yang menyelimuti jkt
tidak hujan tidak terik
matahari pun tidak muncul
bulan pun tidak terlihat

begitulah yang muncul dihati

Friday, January 04, 2008

Dendam kesumat pada gedung2 tua yang mengusang?

Kalau dulu aku sering ke semarang, turun di stasiun tawang.
Menerawang di tengah malam.
Yang ada hanya kumpulan hitam yang kelam.

kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi?
Haruskan dosa penjajahan dimasa lalu juga melibatkan dendam kesumat pada gedung2 tua yang mengusang?

Thursday, January 03, 2008

Ladang birahi.


Wajahmu datar nona.
Matamu pun segaris.
Kau tebar kan senyum ke alam
Dan tatapan mu ke langit.

Apa yg kau lihat diatas sana ?
Hati bertanya sinis.
Apa kau merindukan kampung halaman mu ?
Aku rasa tidak.
Yang kulihat sepertinya dirimu merasa 'menang' atas kesulitan hidup dan menjunjung kebodohan bathin sebagai penopang nafasmu.

Enyahlah kau dari Bumi Nusantara ini !
Biarkan kami hidup dengan kejawen an kami.

Merindukan kampung halaman dan bertani adalah lebih baik
dari pada kau jadikan diri mu sebagai ladang birahi.

Wednesday, January 02, 2008

Harusnya lebih baik di tahun nnt.

Bulan purnama di ujung awan.
Ku sujut di kaki langit sambil menatap awan.
Semangat masih sama di ujung taun.

Membuka jalan sambil menenun.
Merajut impian untuk yang meramu.
Harusnya lebih baik di tahun nnt.



Tuesday, January 01, 2008

Dari kelahiran menuju kelahiran

Tidak ada saat yang lebih suka selain kelahiran.
Tidak ada saat yang lebih duka selain kematian.
Tahun berganti hanya merupakan pembagian.
Dari kelahiran menuju kelahiran.





Wednesday, December 26, 2007

Tanpa penyakit dan penuh cita

Aku ingin bicara dalam bisu
Aku ingin melihat dalam kejap
Aku ingin mendapat menyelesaikan
masalah dengan tidur.

Aku tidak ingin istirahat.
Aku ingin selamanya sehat.
Tanpa penyakit dan penuh cita.

Monday, November 12, 2007

kebahagian yang tumpang tindih

Hujan membasahi lapisan jalan
Berangkat dari diam menelusuri perjalanan
Terhentak mengejar umpan jantung
menggelinjang memperkirakan apa yang tertanggung

AKu begitu mencintai dia
dengan apa adanya diri nya.
Takut kehilangan hanya dalam selangkah
perjalanan menghampiri masa depan.

Berharap dia akan berpaling walau
sejenak
menatap dengan penuh kerinduan
akan kebahagian yang tumpang tindih.

Sunday, November 04, 2007

Tak mungkin kau melarikan diri

Malam menjelang
Dingin menggalang
Mentari terhalang
Dataran menghilang.

Tak terelakan yang dikatakan Mentari
Tak terelakan yang disampaikan Rembulan
Mematai matai kehidupan gelap dan terang

Tak mungkin kau melarikan diri
melalui waktu yang katanya
'Bersabahat'.

Wednesday, October 10, 2007

Untuk menjalani hidup dengan penuh cinta.

Jeritan tangisan mu mewarnai pedihnya cintamu pada ku.
Derai air mata mu mengundang rindu pada ku.

Sampai lapisan terakhir lutut ini,
bersujud menyeret pilar bumi akan kulakukan.

Membelah empat samudra sekaligus,
akan ku usahakan hanya untuk
menyebut untaian kata 'Aku cinta padamu'

O Perawan berbagilah sedikit
hati mu pada perjaka bodoh ini
untuk menjalani hidup dengan penuh cinta.

Tuesday, October 09, 2007

Kebahagian yang senantiasa bersemi

Disaat cinta tidak pernah tau dimana
dia harus tumbuh
disanalah akan memunculkan cinta yang
murni

Disaat cinta harus memilih arahnya
disanalah akan memunculkan kerinduan
akan makna cinta sebenarnya

Perpisahan dan pertemuan hanya bagian
dari cinta itu sendiri
yang mewarnai kehidupan percintaan
dua insan manusia


menunduk demi cinta
merendah demi cinta
akan membuahkan penderitaan akan cinta
yang membawa kenikmatan akan cinta itu
juga

segala pengorbanan demi cinta dan
atas nama cinta hanya berakhir pada
kebahagian yang senantiasa bersemi
di surga dan neraka

Tetapi tetap saja memakan korban.

Pengabdian seorang tua pada langit.
Terwujud dalam keadaan damai yang paling damai.
Tumbuh dalam hati dan meninggalkan sang penghuni surga sendirian.

Tangisan perawan menembus langit ketujuh.
Para janda dan yatim memilukan hati yang paling dasar.
Inilah kenyataan kawan.

Setiap tahun tidak melepaskan diri dari menjalani ritual.
Memohon pengampunan pada Sang Khalik.
Mengingat perintahnya dan menjalankan nya atas nama nurani.
Tetapi tetap saja memakan korban.

Saturday, October 06, 2007

Membela kewibawaan NKRI

Berjayalah Angkatan bersenjata Republik
Indonesia.
Dengan tegap kau ber siap diri didepan
merah putih.
Mempertaruhkan jiwa raga hanya untuk
satu komitmen 'NKRI adalah harga mati'

Dengan perangkat pendukung yang sangat
terbatas.
Dengan kesejahteraan yang sangat
dibatasi.

Tidak perduli hujan badai
Tidak perduli anak istri mengais
Kau maju di depan garis depan
Membela kewibawaan NKRI

Wednesday, September 26, 2007

Tetapi kulihat ada perbaikan

kalau kulihat matahari masih terbit
di timur jauh
kulihat ada kebahagian akan menyingsing
di kalbu

kalau kulihat matahari terbenam di
barat jauh
kulihat seperti ada kematian akan
merenggut

apakah hanya bulan dan matahari yang
mengusai barat dan timur ?
adakah yang akan terbit di utara dan
selatan ...
masih ada enam arah lagi yang belom
kau berikan penerangan.

terlalu banyak yang masih gelap
tetapi kulihat ada perbaikan

Sunday, September 16, 2007

Dalam muara sungai pancasila yang bhinneka tunggal ika.

Wahai kawan ku
nama besar keluarga mu tidak bisa
kau rangkul begitu saja dalam keadaan
yang paling darurat sekalipun.

Wahai kawan ku
telah kuanggap sebagai saudara ku
yang terbuang.
oleh egoisme mu sendiri yang terjungkal.

Wahai kawan ku
aku mengetahui hati mu baik akan tetapi
kau berusaha untuk diri mu sendiri dengan
mencabik nya.

Wahai kawan ku
setiap hari kau memprotes kawan2 mu
sendiri.
setiap hari kau melakukan pembuktian
bahwa tidak ada yang lebih baik dari
diri mu sendiri.

Wahai kawan ku
kutanya pada mu, apa cuma ada satu mata
air berada di muka bumi ini?

Wahai kawan ku
darah kita sama sama merah
tulang kita sama sama putih
kenapa kita tidak bersatu untuk
sekali nyebut merah putih
dalam muara sungai pancasila yang bhinneka tunggal ika.

Sunday, August 19, 2007

Kibarkan Merah Putih pada setengah tiang untuk saat ini.

Selamat ulang taun Indonesia
bertambah angkanya nenambah usia

Penjajah berhasil kita usir
sudah selayaknya kita ukir

Awan kemerdekaan membuka tabir
kehidupan beradab mulai mencibir

Kemiskinan menjadi raja
kekayaan menjadi cita2

O ... Indonesia
Kibarkan Merah Putih pada setengah tiang untuk saat ini.

Saturday, August 11, 2007

Kasih anak tak mampu menandingi sampai berakhirnya dunia.

Disaat darah ter jatuh ke tanah
ku tau kalau pasti ada ratapan tangis Sang Ibu yang memilukan di ujung sana.
Disaat air mata seorang Ibu membanjiri pipi
ku tau kalau pasti anak tunggalnya sedang terkena derita tak bertepi.

Kasih Ibu membawa kehidupan di dunia.
Kasih Ayah membawa perubahan di dunia.
Kasih anak tak mampu menandingi sampai berakhirnya dunia.

Friday, August 10, 2007

Kehidupan manusia saat ini dan sekarang.

Disaat cinta bersemi dan harus dihadapi oleh perpisahan.
Hancur seperti munculnya rembulan di sore hari yang tidak bersinar tetapi membuat sang mentari terbenam.

Disaat keterikatan perasaan mulai merangkul sesama anak manusia dan dihadapi oleh perpisahan.
Retak seperti layaknya tsunami yang meretakkan tanah petani.

Begitulah jalan nya cerita yang selalu abadi di dunia ini.
Perpisahan disaat kedekatan melekat.
Pertemuan disaat masing2 da merasakan artinya perpisahan.

Tidak ada yang abadi untuk dicintai.
Tidak ada yang abadi untuk dipisahkan.
semuanya hanya bagian dari dongeng berbagai lapisan kehidupan manusia saat ini dan sekarang.

Wednesday, August 08, 2007

Sampai kapan semua ini berakhir ???

Indonesia
tanah dimana aku dilahirkan
Indonesia
tempat dimana aku menjalani kehidupan
Indonesia
tanah dimana aku meneteskan keringat
Indonesia
tanah dimana penuh bencana
Indonesia
tanah dimana aku selalu berlinang airmata
Indonesia
Sampai kapan semua ini berakhir ???

Tuesday, July 31, 2007

Aku mengerti apa arti kehidupan itu sendiri.

aku mungkin bukan orang pintar
aku adalah orang yang suka berkelakar

aku mungkin bukan orang yang cerdas
aku adalah orang yang suka pedas

kalau aku ingin berkarya
mungkin yang kubuat adalah berkelakar
diantara orang lapar.

aku mungkin bukan orang kaya
aku adalah orang yang suka susah tetapi
bersahaja

aku mungkin bukan orang susah
aku adalah orang yang suka mengunyah.

aku mungkin bukan orang kuat
aku adalah orang yang sering berkutat.

hanya dengan berkutat, berkelakar, dan
berkarya aku mengerti apa arti kehidupan itu sendiri.

Friday, July 27, 2007

Tidak lagi bisa memanjakan diri

kalau saja aku sedang bermimpi
ingin rasanya aku akhiri mimpi ini
tidak terlalu buruk tetapi berkepanjangan.

kalau saja aku ingin bermimpi
ingin rasanya aku bermimpi ditengah
padang rumput yang luas dimana
para penebang liar duduk beristirahat.

Lebih indah sepertinya ketimbang
memperhatikan penunggu bus - bus kota
yang tidak lagi bisa memanjakan diri
dengan hasilnya sendiri.

Sunday, July 08, 2007

Bersinergi sambil menunggu ukiran di hati

Malam ini ku pamit dengan waktu
Berteman selimut sang pembalut ku
Izinkan ku ber semoga ...

Semoga dingin tak membuat mu retak
Semoga cahaya bulan tak membuat mu bergerak
Setia dalam penantian
Bersinergi sambil menunggu ukiran di hati

Sunday, July 01, 2007

Gagasan akan pelestarian situs - situs sejarah.


Malam yang indah
Berteman es teh manis segelas

Ditemani kekasih yang setia mengulas.


Didepan mata terpampang hotel tua

Ditambah barisan gedung tua yang tidak pernah tua
M
esra bersama belahan jiwa hanya menatap yang sudah tua.

Indah sekali ... sangat indah
S
edikit menyeramkan tetapi hati tidak pernah geram
Yang ada muncul pemandangan manusiawi

Kalau ada anak negeri yang lagi mengerami
gagasan akan pelestarian situs - situs sejarah.

Sunday, June 24, 2007

Sehingga kembali kepada peradaban

guratan hati terobati
sayatan hati kembali terlapisi
setelah sekian lama tidak hadir sekarang kembali

masih seperti dulu bung Adep.
tidak pernah terukir perubahan mengendap
tetap semangat dan tidak gagap
senyum seorang budayawan tidak pernah membawa dunia gelap

perjalanan terik tidak terhiaraukan
serasa mandi ditengah ke tamakan
semoga situs sejarah dapat menahan ketamakan
sehingga kembali kepada peradaban

Friday, June 22, 2007

Melakukan pembunuhan berantai untuk memerangi kebodohan.

Tiada lagi marga ...
Tiada lagi yang memacu semangat ke margaan ...
Yang ada hanya kepedihan,
Disaat orang yang sama kulitnya dan matanya
harus terus menerus terpojok oleh kemurkaan diskriminasi

Kalau sampai ada yang mengangkat bendera perdamaian
Kalau sampai ada yang membumbung semangat ke margaan
Diriku akan menjadi orang pertama mengangkat lengan
Menyingsingkan masa kelam dalam sebilah pisau ke intelectualan
Melakukan pembunuhan berantai untuk memerangi kebodohan.

Thursday, June 07, 2007

Peradaban manusia indonesia seutuhnya.

malam menerawang di tengah lampu jalanan
menghimpit anak muda yang memiliki kemajuan bermuda
duduk diantar para petinggi perkumpulan membahas keadaan yang berangkat dewasa
menjulang suatu impian yang tidak lagi bersinggungan.

mata memandang sejauh impian ku melambai.
harapan untuk menetralisir keadaan berakhir dengan pemampatan pembicaraan.
menganggap remeh ide membuat mata bahitn ini murka
kenapa mereka yang ku sanjung justru membungkam ku dalam keadaan hidup2.

kawan ... masih sucikah perjuanganmu membangun indonesia yang mandani
atau mmemang masih berada dalam angan - angan juga saat ini.
atau memang aku telah salah membuatmu sebagai bagian dari tulang ku

kawan ... masih disanakah kau, yang dulu menjemputku diperempatan meja makan malam.
mengajakku berbuat untuk mendamaikan negeri yang ngeri ini.
membangun indonesia baru yang terbebas dari kebodohan yang berakar.

kawan ... dimanakah hati nuranimu sekarang
jujurlah padaku wahai kawan ku ... aku pasti memaafkanmu walau kau telah ingkari
merah darahku dan putih impianku.

aku masih seperti dulu .. yang menunggu diujung perempatan jalan
berteman pada sang kelakar yang menyimpan ide serta impian menuju kepada kemajemukkan peradaban manusia indonesia seutuhnya.

Sunday, June 03, 2007

Peninggalan sejarah tionghoa sangat menyentuh hati.

Peninggalan sejarah tionghoa sangat menyentuh hati.
Panas terik tidak sama sekali membuat kami berjerit.
Berkumpul di Mc Donald gajah mada jam sepuluh pagi.
Molor sampai jam dua belas siang baru jalan.

Empat kendaraan satu persatu kami tumpangi.
Bersama Alex, Jerry, dan Wahyu dari JTM.
Ditanggapi oleh kepiawaian beberapa rekan dari Tnet dan Budaya tionghoa.
Membuat suasana menjadi marak.

Segala usia mewarnai kumpulan ini.
Berbagai intellectual terus berkumandang dengan estafet.
Dari skala ringan sampai skala besar menjadi ajang adu intellectual.
Aku senang … terasa bahwa pengetahuan adalah kekal.

Jarum jam menunjukkan jam dua belas siang.
Berangkatlah kami ke Candranaya, sang biduan di tengah dinamika perkembangan suasana kota yang metropolis yang selalu berpolitis.
Masih hidup seperti dulu.

Harapan hanya bisa menatap dari atas jembatan penyebrangan mewabah semua instrument keadaan pikiran kami ber 15 orang kurang lebih.
Sungguh gempita hati ini disaat seorang Martin bersama Alex menerobos masuk dengan gaya diplomatisnya yang tidak pernah bisa ku bayangkan.

Kaki berbalapan dan senyum melebar menghias pelarian ku menghampiri kendaaraaan yang tadinya ku berpikir kalau tidak mungkin ku bisa mengambil gambar dan paling tidak hanya membangunkan kesedihan yang sangat mendua dalam dunia.

Bagaimana tidak kawan?
Awal sekolah apoteker pertama di Indonesia berawal dari sana.
Awal pendirian rumah sakit juga berawal dari kongko di gedung sakit tersebut.
Awal pendeklarisian merah putihnya tionghoa sehidup semati terhadap NKRI berawal juga disana.

Masuklah kami kedalam nya,
Suasana haru menghias dalam setiap tapak kaki melintas lapisan semen penuh dengan pasir hasil perkerjaan sipil yang telah usang bercampur debu2 kehidupan.
Berpencar kami semua.

Aku berlari mengejar pintu gerbang.
Seolah ku sedang bertuan pada kakek moyang ku yang mengabdi pada negri.
Guratan nyata masih menyinar ...
Sampai keruangan tengah …

Luar biasa … gelap … tidak berbau sedap
Ornament ornamen kejayaan ukiran yang kurasa ada makna menghias di dinding setiap pintu.
O waktu .. .terimakasih kau telah memberikan kami waktu untuk kembali melihat jejak sang leluhur yang mengabdi pada negri.

Seolah janji dan sumpah mu masih kurasa kemarin.
Terpancar sedih melintas di wajah seorang budayawan Budaya tionghoa,
Berasa seperti kemarin dia melintas pada kehidupan terdahulunya.

Masih bisa kurasa kalau kau bilang sedih kawan.
Masih bisa kumengerti kalau kau bilang benci kawan.
Aku pun merasa demikian.

Sang waktu maha adil, tidak pernah meninggalkan pengikutnya yang setia.
Malah sang pengikut yang sering meninggalkan waktu dan berpaling pada keindahan dari negeri 4 july sebagai hari merdekanya.

Selesai sudah kami disana,
Cukup lama kami ber cerita sampai lidah tidak lagi bersahabat.
Lebih dari dua batang rokok ku habiskan hanya untuk membuat diriku dan angan2ku puas atas keindahan surga dunia budaya.

Setelah itu kami ke Tepekong petak sembilan.
Tempat dimana pertama kali tionghoa membuat kelenteng hanya untuk melepas kerinduan pada tanah leluhur yang tidak pernah mungkin akan kembali di cintai.
Sekaligus menghampiri dan berduduk bersipu lapar disaat hari menjelang sore.
Bernuansa keteduhan gereja tua yang ber aroma etnik tionghoa
Gelak tawa menghias … seduhah kopi bergumul lidah tidak bertuan.

Nasihat dan petuah bahu membahu membentuk kajian intellectual untuk membangun saling mencintai sesama generasi yang berhamburan pengalaman dan ketajaman dalam berpikir.

O waktu …
Telah ku lihat kembali masa kejayaan mu wahai candranaya
Telah ku lihat lagi masa indahmu wahai tepekong petak sembilan
Telah ku lihat berulang kali masa keindahan penyebaran katholik dalam keharmonisan gereja siti de fatimah.

Tunggu kami
Jangan kau tinggalkan kami
Berikan kami waktu untuk mengetuk lapisan ketujuh dari bumi ini sekedar membangunkan anak nusantara untuk membangun negeri dan tidak meninggalkan budaya kami sendiri.

Bertahanlah wahai candranya
Tanpamu Indonesia tidak akan pernah ada dan
Kami pun tidak akan pernah terlahir.

Thursday, May 17, 2007

Bertanya pada Sang Khalik

Mei bukan hanya milik amoi
mei bukan hanya milik malik
mei milik Sang Khalik.

Tetapi kenapa kau bumi hanguskan sebuah etnik
dan kau hancurkan secara tidak heroik.

Kau adu domba sesama anak negeri
layaknya imunisasi dalam sewaktu sekali
kau tebarkan kebencian di tengah suasana sulit.

Bisakah kita, kau, dan kami duduk memandang langit?
bertanya pada Sang Khalik,
siapakah sesungguhnya pemilik bulan mei dalam pelik?

Catatan seorang Tionghoa Jakarta di bulan MEI tahun 1998


Catatan seorang Tionghoa Jakarta di bulan MEI tahun 1998
Kegelapan malam menghilang

Kesiangan kembali menghadang
ketika kusadari waktu telah berganti karna begadang

kusambut hari dengan berdagang.


Indahnya metropolis menghardik kesulitan ekonomi

Papan yang berjejer rapi sepi pembeli

tak urung jua kubermimpi
suatu hari kesuksesan bisa kudapati
.

ribuan orang berkumpul ditengah ban berapi

melihat guyuran tatapan yang tak henti
membalikan badan sambil berteriak memaki
' cina ... cina ... bakar cina '.

terbiasa dengan kunjungan orang membeli dagangan
melayani satu persatu melalui penerangan

ribuan tangan mulai menerawang

ribuan tangan mulai menggerayang.


badanku tidak kujual
daganganku yang kujual

kenapa badanku yang kau jagal

dan daganganku kau obral.


seperti hari ini ... aku tertidur dengan orang yang tidak ku pernah
bisa rangkul ... Kuburan massal TPU pondok rangon, jakarta timur.

Tuesday, May 15, 2007

Dengan kelentikan PURNAMA DI BUKIT LANGIT kami melukis


kau jarah harta benda kami
kau ingkari jasa kami
kau kambing hitamkan kami

kami menangis ...
kami meringis ...
di Nusantara ini kami mengais
dengan kelentikan PURNAMA DI BUKIT LANGIT kami melukis

Tuesday, May 08, 2007

mungkin tidak ada karya yang tidak ku perbuat untuk yang di atas.

kalau saja kubisa berbuat lebih
mungkin tidak ada hari tanpa perubahan dunia
kalau saja kubisa bertemu lebih
mungkin tidak ada hari tanpa kacamata dunia

seandainya waktu menyisihkan sedikit keasyikan dalam bercinta
mungkin tidak ada hari tanpa berasmara
seandainya waktu menyisihkan sedikit atas usiaku yang terbatas
mungkin tidak ada karya yang tidak ku perbuat untuk yang di atas.

Thursday, May 03, 2007

Padamu negeri kami mengabdi

Panas jalan tidak menghambat pa ogah berjualan jasa penyebrangan di perempatan
Keringat bersantap kulit dan rambut kecil menyayat nadi kehidupan
Penyedia kesempatan akan mendapatkan tempat yang layak semangkin marak
Berawal dari protokol upacara sampai dengan yang diperempatan jalan.

Mungkin inilah wajah negri kita
Selalu berusaha menyediakan pelayanan akan apa yang bisa disediakan
Memperbudak diri untuk menyediakan keadaan akan kehadiran pendatang
Bertingkah sesuai procedure untuk anak negri tapi ber pola praktis bagi pendatang.

Inikah yang disebut dengan 'Padamu negeri kami mengabdi'?



Friday, April 27, 2007

Buat Uly dan team


Buat Uly dan team

Kartini dan Kartono nama saling berkaitan.
Lintas malam lintas kehidupan.
Memandang dari kejauhan adalah kepalsuan.
Merambah dari kemelekatan adalah ketakutan.


Berpangku tangan menantang matahari esok.
Berdiam diri dan mengemukakan pikiran sesuatu tidak terelakan.
Egoisme intelectual biarlah menjadi pendiam yang tergelatak.
Berjalan dengan kaki telanjang merupakan penolakan akan pengkotak2an.


Memberi penilaian terhadap diri kita sendiri melalui perdebatan.
Membuat pembungkaman bibir tipis menjadi madat dalam keterkaitan.
Berbuat dan berucap merupakan kaitan jati diri ketidak puasan.
Salut untuk kawan dan saudaraku di tegal alur sana yang menjadi pemikir di milist.
Tetapi berbuat di realitas atas nama hati dengan pedoman nurani tanpa institusi tertulis.

Tinggal cerita kesiangan


Jakarta hari ini hujan lagi.
Masih berasa kejadian kemarin.
Tidak ada kerabat.
Tidak ada sobat.
Sendiri memandang arus air yang lewat.

Lebih dari sejam hujan turun dengan deras.
Hanya bisa memandang arus yang selaras.
Tidak mampu menahan ketakutan.
Berbondong2 warga mengulang kembali upaya penyelamatan.
Diparkir dengan rapi kendaraan beroda empat, diujung perempatan.
Berharap tidak terbanjiri tetapi
berdoa agar bandang tidak terulang lagi.

Sampai kapan kami harus terus menerus seperti ini?
Siklus lima tahunan adalah jawaban terkini.
Tetapi hidup kami bukan untuk lima tahun saat ini.
Kami juga manusia yang senantiasa berjuang untuk mengimbangi kehidupan terkini.

Kelapa gading akankah nasibmu seperti gading di tengah kekeringan.
Tinggal cerita kesiangan dimana ditemukan hanya ke ngerian akan
bandang yang tidak tertandingi.

Wednesday, April 25, 2007

Langkah tegas dalam menyalurkan tekanan manusiawi ini.

Pelega dahaga cinta dan kemesraan pun dijualnya.
Keindahan bercinta pun menjadi santapan pergulatan.
Kaum Pria dikatakan sebagai pembeli pertama yang meramaikan.
Tetapi terlintas kah kita bahwa semua ini adalah fenomena alam
yang bisa dikaitan dengan 'bencana nasional'.

Belom ada satu pun pemimpin bangsa selama kemerdekaan
Menyatakan perang dengan pelacuran.
Belom ada satu pun pembuat keputusan mengambil
langkah tegas dalam menyalurkan tekanan ini dengan lebih manusiawi.

Monday, April 16, 2007

Kalau siang ditemani bohlam rasanya seperti pecundang

Kalau malam ditemani bohlam rasanya kurang
Kalau siang ditemani terang rasanya girang
Kalau malam ditemani terang rasanya tenang
Kalau siang ditemani bohlam rasanya seperti pecundang

Saturday, April 14, 2007

Mungkin hanya harapan untuk dirinya agar membusuk

Kalau sampai waktu tidak memberikan ku izin untuk merauk,
Mungkin hanya darah yang bisa ku sauk.
Kalau sampai karyaku disauk,
Mungkin hanya bisa kepala yang kugaruk.

Kalau sampai abdi ku mengamuk,
Mungkin pawang pun tak sanggup mengutuk.
Kalau sampai kawanku sendiri yang menusuk,
Mungkin hanya harapan untuk dirinya agar membusuk!

Friday, April 13, 2007

Meninggalkan generasi pecundang adalah kemanusiaan.

Kemiskinan merambat kerap,
Ketakutan menyatu dalam derap,
Keindahan akan kebahagian terus menggelap,
Tetapi nafsu terus menggeliat.

Kemandirian kapitalis membeli semua slogan kesurgaan,
Kemajuan pemikir konservatif menyandang gelar kesarjanaan,
Mengembangkan kemajuan yang mandiri dan bersahaja,
Melupai yang tidak bisa mengikuti semuanya.

Kemandiran yang hakiki hanya bisa berjalan di atas hati nurani,
Kemajuan intelectual hanya bisa berjalan untuk mendobrak tirani,
Meremajakan pemikiran yang sadar akan kebersamaan adalah keinginan,
Meninggalkan generasi pecundang adalah kemanusiaan.

Tuesday, April 03, 2007

Pengajar

Bimbingan belajar membanjir disetiap pelosok
Menjual impian akan masa depan yang sudah terseok seok
Slogan untuk membangun negri tidak lebih dari pelarian
Mencetak anak bangsa yang cerdas ala pengeksplotisian

Bukan kah seharusnya penguasa menyadari
Anak negri adalah asset tak tertandingi
Kenapa engkau meninggalkan kami disaat kurikulum menghimpit ?
Peremajaan mata pelajaran tidak ada artinya tanpa kesejahteraan yang selalu terjepit.

Sunday, April 01, 2007

Palungan

ku kedepankan negri membangun sanubari
ku kedepankan bangsa membangun kebersamaan
caci dan puji mengiang disela kesendirian dan keramaian
daun tubuh memerah menahan ketidak kekalan
dihargai atau dihilangkan adalah paket perjuangan

tidak ada yang mampu memilih disaat kebangsaan kembali meraung
tidak lain tangis dan kelahiran kembali menggaung
membangun kebersamaan dan keindahan Ke Bhinnekaan dalam palung

Tersisih

sulit sudah rasanya menyisakan nafas untuk hari esok
letih menghirup ketidak nyaman bathin melihat besok
tersingkir dalam pelukkan
terjaring dalam terpurukan

menghindar dari permainan
menghujam yang ada dalam keindahan
harapan menjadi satu bagian
terkadang tersisih dalam kegilaan perpisahan

Thursday, March 22, 2007

Tirani

Langit cerah
Panas teriak meneriaki perjalana ke tanah pengetahuan.Masalah identitas adalah masalah klasik setiap manusia yang terlahir di bumi.Ibarat seorang anak yang mendambakan Air susu ibunya disaat terlahir.
Banyak petinggi melihat bahwa identitas adalah bukan masalah.Banyak perendah melihat bahwa identitas adalah masalah.Kenapa?
karna yang rendah ingin melihat apa yang di rasakan oleh petinggi.karna yang tinggi telah melihat apa yang bisa dijadikan pengganti oleh krisis identitas.
Nilai tukar sekali lagi bermain disana.Kertas dan logam menjadi teman yang setia.Tidak bisa dipungkiri keberadaannya menjawab semua perilaku negatif yang diterima disaatkalah bersaing.
Disaat Sang tanah berkumpul menjadi satu, di tanaminya tanaman untuk mengambil sarinya.Membuahkan buah yang dinikmati yang menanamnya.kalau dianologikan seperti itu, dimana yang sebenarnya kita berada kawan?
Tanah !Itu yang tepat !Mau sampai kapan Sang Tanah ini hanya memberi tanpa tahu harus membuahkan hasil seperti apa yang mereka kehendaki.Itulah kita, tionghoa yang hidup menjadi kaum miskin perkotaan.Hempasan peraturan merobek tradisimu.Gempuran Celurit membuang jantung nafas mu ke padang pasir.Dengan gebukkan beduk di subuh,Satu nyawa melayang di gantung di tiang kematian yang tidak pernah tidur.
Jakarta dan Indonesia adalah tiangnya.Bangkit dan lawan serta menangkan setiap gesekan dari adu domba SANG tirani!

Tuesday, February 13, 2007



Personel ketentaraan diturunkan
Untuk mengkasihani para korban
Lemparan lemparan tuntutan kehidupan bersautan
Tangan tangan yang terbiasa menghitung uang mendadak meminta belas kasihan
Tidak terselip satu pun kebencian
Tidak teruangkap satu pun kemunafikan ... seharusnya ...
Berjejal kotak - kotak berdoa mencari daratan
tanpa perduli kejauhan.
Terbentang hati nurani melihat kode aparat ikut menyelamatkan harta benda
Semoga kau menyingkirkan asset negara untuk menyelamatkan sesama penghuni negri.

Pelepas Dahaga


Pelepas dahaga mengalir menjalani alur2 jalan
Menghampiri tumpukkan semen sampai ketepian.
Kemewahan dalam kesederhanaan menjadi terlihat.
Tiada arti disaat sang Bulan menarik grafitasinya sesaat.
Kemungkinan menjadi kenyataan.
Mimpi sederhana tidak lagi berjalan.
Ketakutan menjadi penggembira.
Kemunafikan menjadi terbentang.

Wednesday, January 24, 2007

Poa Hoa

***Langit hitam kebiruan menutupi Kota jakarta menyeluruh kukira,
Kumpulan karet melingkar menggilas aspal di depan velg standard motor jepangku,
Bermodal semangat kebangsaan disaat lagu Indonesia raya teringang ditelinga.
Masa depan ku lihat menjadi suatu yang terindah dan tidak lagi ada dusta kukira.

Dingin hawa buatan membuatku harus menahan kandung kemih sesaat.
Melipatkan tangan didada menunggu dengan waspada apa yang menjadi pertanda.
Awal terlilit oleh guyonan dan terpacu semangat promosi mendasar serta wajar.
Akhir kebosanan terhampiri di hati dan pikiran dimana kata "kesejahteraan" kembali di kumandangkansebagai lebel tionghoa.

Kata "singkawang" dan kalimantan pedalaman menjadi selebritis,
Dipercontohkan sebagai bagian yang ada di Indonesia yang dilematis,
Tetapi apa akan cocok dengan proklamasi masing - masing pembicara?
Seperti dalam teater koma yang sedang betul2 koma.

Teriakan intelectual di depan Mix tidak diizinkan lebih dari tiga orang,
Apa ini yang dikatakan diskusi kawanan orang?
meminta mengangkat tangan mengambil pilihan yang tidak pernah terpilih kewajaran.
Apa seperti itu yang diinginkan petinggi2 uang dan jabatan?

O TIONGHOA,
KENAPA KAMU BERNASIB SEPERTI SEMANGKOK MAKANAN POA HOA?
O POA HOA,
KENAPA KAMU BEGITU NIKMAT DISANTAP DISAAT PERUT KENYANG DILILIT KEMUNAFIKKAN?

Pembenahan harus dimulai dari mana?
Kenapa justu yang menjadi penyantun adalah orang yang menghardik agamanya sendiri dengan skandal HPH menyengsarakanpuluhan jiwa manusia dan binatang?
Kenapa justu yang menjadi pembicara adalah manusia pelanggar hak hakikinya di militer terhadap perbedaan etnic?
BUkan kah kau dengan batalyon mu yang memperkosa secara biadab puluhan wanita di tahanan politik karna dia bermatasipit di tahun 1965?

Mungkin lebih baik kuanggap sirna di telan gemuruhnya kehidupan, dengan berkata "keberadaan perundang2an telahdi susupi oleh petinggi uang dan pejabat.

O Merah darahku putih tulangku,seperti itulah bait seorang penyanyi yang mati kena beng ek.
begitu pula kita saat ini kawan,
tidak lebih dari seseorang berpenyakit sesak nafas,
tidak kompaknya paru paru menghirup udara bebas !***

Wednesday, October 25, 2006

Kayu Jati

Penduduk yang sangat luar biasa ramah,
dijemputnya kami ditengah pagi yang sebentar lagi terjamah mentari,
Beginikah yang seharusnya terjadi kawan,
ditengah hiruk pikuk pembauran,dan penghancuran,
tidurku malam tak nyenyak,

terbangun terus menerus dikala pikiran bermunculan,
terkhianati oleh keadaan yang seharusnya lebih baik menjadi akal2an,
Kawan mungkinkah memang org yang ku hadapi sekarang sama busuknya dengan keadaan.
waktuku berasa tidak banyak kawan di kehidupan ini,

waktuku kumanfaatkan dengan berbuat baik untuk kehidupan ini dan selanjutnya.
kalau sampai batasku kematian menjemput dan keadaan tidak sadarkan diri terjadi,
haruskah ku juga menangis meninggalkan keadaan yang tidak teringini.
kawan ternyata berpola pikir baik pun membuat banyak orang memanfaatkan keadaan yang ada,

kawan keadaan petinggi bisa melihat kebawah cukup baik dan menjalankan keadaan yang berada.
ingatlah wahai para bandit management hatiku ini bagaikan irisan kayu jati,

yang tidak akan lapuk termakan kehidupan hayati,
ingatlah wahai para penjilat management hak ku telah jelas terlantang di meja keadaan,

walau nafas ini membuat ku meringis disaat sinus mengais,
tetapi kasihku tidak akan membuat ingin menangis.
doaku selalu membuat mu lebih baik dari hari kehidupan menuju keadaan yang berpengasih.

Monday, October 16, 2006

Pelukkan Seorang Ibu


meratap nangis dalam pelukkan seorang ibu,
sama harunya seperti kita menanti turun nya hujan di padang pasir.
rasanya bersimbah dosa kita hidup,
rasanya tidak ada lagi kekebaikkan yang bisa kita perbuat.

Kawan,
haruskah kita menanti disaat sang Fajar da menyingsing lagi di ufuk timur?
haruskah kita terus berdoa disaat kemarau menghujan tanpa pamrih?

Kawan,
sampai kapan kita hanya menerima takdir yg selalu memungkiri diri kita sendiri?
sampai kapan kita membohongi diri kita sendiri dengan berkata kita menyembah dan takut hanya pada NYA?
sampai kapan kita menghamba juga pada sesama manusia?

Kawan,
Fitnah dan melepas nya bathin dari akal pikiran membawa kita pada bencana manusia terhebat dalam sejarahnya.

Monday, October 09, 2006

Taman Angrek


Wajah lapar menggilas.
Air liur bercampur peluh menderas.
Berbaris ribuan manusia mencari penyesuaian yang tergilas.
Hanya untuk melindungi kulit dari kedinginan dan kepanasan yang menyengat tak mampu membalas.

Anak NYA saling berbagi untuk membantu sesama peliharaan NYA.
Dorongan atas apa ini semua oleh NYA.
Tidak ada yang bisa membuat lebih baik kecuali diri NYA.
Kita dan mereka terlentang di tepi jalan tidak ada bedanya seiring kehidupan yang diciptakkanNYA.

Hanya melaksanakan amanah NYA untuk saling berbagi atas suka dan duka.
Dari yang memerah sampai dengan kepasrahan yang mendua.

Kawan,
Inilah kehidupan yang sejati,
kehidupan yang berbagi,
dari yang didapat atas apa yang diperoleh dengan wajar.
Bukan penyempurna kehidupan yang mengharuskan membagi.

Kawan,
apa yang diberikkan dari orang yang ter hina dan ter hormat adalah sama.
Tidak ada perbedaan sama sekali.
Yang ada hanya kata kesepakatan jiwa berkali kali.
Untuk saling mengasihi dan meng kasih ani satu sama ditepian kali.

Kawan,
apa yang dilakukkan oleh seorang terhina dalam pencarian akan melakukkan
hal yang sama.
tetapi yang membedakan adalah apa yang dilakukkan disaat menghadap pintu gerbang
kelahiran kembali.
Disaat dia harus memilih tanpa pilihan yang banyak berarti,
menjadi mahluk dengan empat atau dua kaki,
dengan keadaan yang ber peri kemanusian yang berhakiki.

Kawan,
jangan kau tangisi kehidupan ini,
kehidupan ini hanya bagian dari apa yang kita terima saat ini,
atas apa yang kita perbuat di masa yang telah berlalu hingga kini,

Kawan,
hawa dingin membawa kami kepada perenungan yang terindah,
payung sinar matahari mengingatkan akan pentingnya kebersamaan yang tertunda,
berbuatlah sesuatu untuk kami, dengan melontarkan senyum yang abadi,
untuk melihat masa depan yang lebih baik dari hari ini.

Sunday, October 01, 2006

Sudirman

Diantara keadaan yang ada,keadaan ter kuburlah yang tidak pernah bisa melihat,
Diantara kesulitan yang ada,
kesulitan ber nafaslah yang paling menyiksa,
Sesak di dada membawa kita ke arah tak sadarkan diri,
buta pengelihatan di mata membawa kita ke arah kegelapan diri,
lumpuh penopang badan membawa kita ke pemberhentian melangkah kan diri.

Mungkin ini yang bisa disamakan dengan peristiwa P(artai)K(arbitan)I(TNI)meletus,
Moment dimana tidak pernah terjadi tetapi teringat seolah terjadi,
Traumatis dan keketakutan membuat diri kita tidak pernah melangkah kedepan,
Pemusatan akan bungkusan penampilan membawa kita ke arah mengutamakan kepentingan pribadi.

Siapakah yang diuntungkan saat seperti kegilaan akan ketakutan masa lalu?
Lagi lagi pihat berwajib (wajib melindungi, wajib memegang bedil, wajib memelihara peluru).

Disaat mata bathin ini melihat kedalam diri mereka berjubah indah hijau daun,
Mereka juga bagian dari manusia,
Mereka butuh kehidupan yang layak yang bisa mengimbangi pengabdian pada manusia yang menghidupi mereka,

Harus bagaimana seharusnya terbentuk?
Harus bagaimana harusnya tersurat?
Harus bagaimana harusnya termakmurkan?

Kening tercipta tanpa rambut yang menumbuhi diri,
Kening menjadi lapangan bola di diri badan yang paling luas dan paling datar,
Apa itu juga menjadi sasaran bedil yang mengingkari pemikiran yang dilindunginya?

Keketakutan masa indah akan kembali tertuang menjadi arah yang tidak pernah tertinggalkan,
Itulah sifat manusia, selalu berusaha mempertahankan yang ada,
Selalu membinasakan yang ada,
Selalu berusaha membuat segalanya menjadi kekal (seperti disurga dan neraka),
Ingatkah kita ini hanya bagian dari kumpulan penyakit dan kelapukan yang berlaku!

O manusia berjubah ... bantu kami ... kembalikan kepercayaan kami untuk membentuk angkatan bersenjata yang melindungi kami dari kembali nya penjajahan kulit putih.
Bukan malah kami yang kau jajah.

O Djendral Soedirman ... , monument kamu begitu indah terpampang di depan jalan sudirman DKI Jakarta.
Tanganmu tegap menghormat gaya militer tempo doeloe dan sekarang.
Lihat anak - anakmu sekarang ini...
Mencari dana dengan mengacungkan pangkat dan senjata ke muka kami,
ya kami yang kakek buyut kami memanggul kamu disaat kamu berperang,
membuatkan kamu tandu untuk menutupi kekurangan mu dalam perjalanan sejarah.

Friday, September 22, 2006

Perbedaan


Dear kawan,
penutup kepala menjadi banggaan diri seorang militer,
badan terlatih memanggul senjata menjadi daya tarik seorang militer,
tanda jasa terpampang menandai negara menghargai seorang militer,
pola pikir padat karya dan praktis membuat dirinya bersemayam di makam pahlawan.

Dear kawan,
apa itu yang menjadi cita - cita setiap insan indonesia?
tidak salah kalau membaktikan diri kepada negara.
tidak salah kalau negara membaktikan diri kepada penghuni.
tetapi salah kalau mereka langsung membaktikan diri kepada bedil
terpampang, dan sangkur terhunus seolah itu menjadi jawaban setiap:
yang menentang, yang beda pendapat, yang berinteraksi dengan intelektual.

Dear kawan,
lupakah mereka serangan umum sebelas maret?
lupakah mereka terhadap pembelian pesawat dari tanah rencong?
lupakah mereka terhadap bendera merah putih yang belom di rajut oleh fatmawati?
mereka siapa? mereka sama dengan kita.
Tetapi tempat bersemayam disaat sang khalik memanggil adalah
mereka tidur dalam makam pahlawan, sedangkan kami terbakar dalam kuburan masal.

Monday, September 18, 2006

Bodok satu


Dear kawan,

Tionghoa dengan permasalahannya membawa bangsa ini kembali ke tangan imprealist.
Mata sipit telah menjadi khas diriku,
Kulit sawo matang telah menjadi jati diri ku,
Sifatku membumi,
Alasanku merajut keheningan asimilasi dan harmonisasi.
Keadaan memperihatinkan membawaku dalam keadaan yang tak terarah,
arah dan darah yang melahirkan ide ini untuk terus berjuang menggapai masa depan lebih
awal.

Dear kawan,

aku hanya bagian dari rerumputan yang diinjak,
nafasku penghisap keadaan yang tidak lepas dari polusi,
jantungku hanya pepompa darah - darah kehidupan.
tetapi itu lahiriah diriku sebagai mahluk hidup.
yang hanya ingin berguna untuk kehidupan ini.

Saturday, September 09, 2006

Lesehan


Kemelaratan dan kesulitan menjadi product yang langka bagi sekelompok manusiaTatapan bengis menghardik bulu roma.
Lesahan menjadi pilihan bagaimana menikmati makanan yang disajikan untuk sekedar melepaskelaparan.
Pantat menjadi kebal yang diperuntukkan untuk menopang tubuh dan menyelipkan kaki,
Beginilah yang terjadi kawan ...
Bangkitnya emosi untuk membumi diperkenalkan dengan cara menyantap hidangan,
Bangkitnya hasrat untuk membaur diperkenalkan dengan cara menyirih lilitan sirih,
Bangkitnya intelektual untuk menghadirkan kayu rotan pengganti tumpukkan aspal membara.

Perbaikkan


Perbaikkan tidak semua orang bisa menerima,dimata orang nostalgia jauh lebih indah, ketimbang berjalan melewati waktu. Begitu juga ketika melihat masa depan,dimata orang nostalgia jauh lebih menakutkan, ketimbang mengamati apa yang kita bisa perbuat untuk sekarang.
Mereka yang demikian akan menjadi orang tertinggal.tidak bisa membuat perubahan, melainkan hidup dalam masa lalu.Mau sampai kapan kita terus menerus telanjang dan memperhatikanluka2 lama yang menganga hampir setiap hari dihinggapi lalat hijau dengan sampah melekatdisetiap jari2 kakinya.
Setiap partikel dari atom2 terkecil yang membentuk tanah ini, ada lah perubahan dari yang hancur setelah menua. Begitu juga dengan keadaan kawan. Hari ini kita berkelit dan berjelimat bahwa apa yang harus kita lakukankalau terus menerus kita akan punah?Demikianlah orang - orang bodoh mencari celah yang bisa diliat dan dijadikan pegangan "because of you i became like this, etc" tetapitidak dengan orang - orang pintar, apa yang terjadi hari ini akan menjadi sejarah dan akan kuhiasi dengan bunga2 wewangiansehingga tidak tercium baunya tetapi tidak membuat bendanya tertutup oleh kelopak bunga yangberguguran.
Bagai mayat seorang kupu kupu malam yang membusuk,
Kemudian ditaburinya kembang kemboja untuk melawan kebusukkan merasuk.

Tuesday, September 05, 2006

Peterpan dalam diriku.


"...dan mungkin bila nnt kita ketemu lagi ... jangan kau tanyakan lagi..."
barisan kata2 yang sangat indah dan sempat menggoncang dunia artis indonesia dan remaja nya.
Begitu pula dengan kehidupan ini kawan,
hari ini kita bisa bertemu dan berdebat sampai akhirnya saling membumi hanguskan satu sama lain,
pembantaian terhadap tikus yang menggrogoti padi diteruskan kepada sesama manusia.
Hilang sudah jati diri dan hilang sudah daya nalar pada sesama.

Seterik apa pun matahari menyinari dunia, tidak akan sampai membakar dunia dan isinya,
Maha besar sang pencipta tetapi manusia yang hanya bagian terkecil dari ciptaan nya dan tidak
yakin bahwa hanya disini saja dunia yang didiami oleh manusia seperti kita, kog tega2nya darah ini mendidih ntuk saling menghilangkan ras dan etnis di dunia.

Salah dimana ...
Orang berjubah dan berseragam memegang bedil2 penyambung kematian membantai dari mental sampai fisik.

Sunday, September 03, 2006

Sampai kapan

Setiap lampu lampu merah bersinar di ujung simpang,
Selalu kudapati antrian.
Setiap di ujung simpang meyimpul,
Selalu kudapati tepukkan tangan kumal.
Setiap mentari di ujung kepala setia menerangi sudut kegelapan bulan,
Selalu ku dapati kerutan dahi manusia mengamen.

Sampai kapan itu akan berakhir kawan kalau saat ini saja tidak teratasi.

Friday, September 01, 2006

Penantian semu.

Disaat indahnya untaian kata kata diringi senandung nya doa khusuk kepada Nya,
ku roboh dalam 'keindahan' surga dunia.
Disaat teraturnya nafas menghampiri organ - organ tubuh,
ku tegar menyingsing sang fajar .

Menatap mentari di ujung bukit rindangnya diantara himpitan ranting semak dan belukar,
ku rasakan kepengetan berubah menjadi keteraturan hidup.
Menatap himpitan pilar pilar kehidupan terpancang kuat di bumi,
ku rasakan seribu tahun rasanya ingin ku tambahkan umur.
Hanya untuk melihat keindahan yang sama ...

Bermimpi keselarasan terjadi ... bersenandung dalam kegelapan yang berubah menjadi terang
Suci nya anak perawan melawan harumnya bunga - bunga kehidupan.

menanti yang telah terjadi untuk terulang ... meninggalkan yang telah menjadi catatan.
... inilah kehidupan kawan ... pada sesungguhnya tidak akan pernah sama dengan hari kemarin dan tidak akan terjadi lagi di hari esok.

Monday, August 28, 2006

Mata


Menghadap Yang Kuasa disaat kematian menjemput adalah hal terindah dari kehidupan ini.
Menutup mata bergilir disaat kematian menjemput adalah tidur ternyenyak yang pernah ada di dunia ini.
Kematian, umur tua, penyakit dan kelahiran adalah hal yang tidak pernah terelakkan yang akan di alami saat setiap mahluk hidup menikmati kelahiran.

Tapi kawan ... apa semua mahluk hidup siap menghadapi hukum alam itu?
Kata "Tuhan" sang pencipta rasanya menjadi idola disaat kita lemah, disaat kita melihat yang kecil memohon yang besar, disaat kekuasaan menjadi jubah kita.

Berbondong bondong manusia memekikan kata sucinya hanya untuk membumi hanguskan dan mengkhiamatkan sesama penghuni galaxi ini beserta adatnya.

Mata ini tidak akan berderai air mata disaat melihat perbuatan mereka,
tetapi bathin ini menangis teriris disaat waktu nya telah tiba.

Saturday, August 26, 2006

Manusia


Cinta sejati ...
bila yang tertulis dalam pikiran ini mungkin itu yang akan kujalani.
Gelandangan berserakkan.
Kebodohan menjadi santapan.
Itu adalah contoh yang terjadi pada manusia Indonesia.

Tetapi bagaimana dengan kehidupan lainnya?
mereka juga pnya hak untuk tinggal di tempat yang tidak pernah mereka minta.
mereka hanya tahu mereka terlahir dan berkembang ditempat itu.

Sebegitu serakah nya manusia sehingga melihat yang lebih kecil dan tidak bernyawa
maka tidak ada lagi penghargaan yang diberikan.

"O ... manusia engkau hanya bagian dari ciptaannya, dan bukan tuhan dari yang dibawah mu"



Tuesday, August 22, 2006

Gerakan 30 September 1965



Agustus akhir ... waktu bergulir tanpa terasa mendekat di bulan September.
Ya september, Hari comunist katanya.Dimana setiap pergerakkan komunis dimulai di bulan itu.Benar atau tidak itu adalah masalah public.Lagi - lagi kuserahkan pada alam yang menjawab.Walau nnt waktu meminta beribu nyawa terbantai percuma hny untuk meng esah kan apa yang seharusnya terjadi oleh sang kecil ( manusia ).

Dear bathin,
tidak hentinya engkau berkata kecil, "Seandainya aku memiliki mata bathin" akan aku lihat apa yang terjadi saat itu.Akan aku lihat apa yang disembunyikan waktu itu.Sekarang aku hanya berusaha merasakan hawa kebohongan yang sedang dibuat empat puluh satu tahun yang lalu.
Setiap detiknya ku coba rasakan ... ... ... tidak lebih dari membumi yang terbumi hanguskan. Seolah tidak ada yang lebih manusiawi disaat serdadu mengasungkan bedil ke pelipis bermata segaris di hutan karet.

Dear bathin,
banyak orang mengatakan politik sangat kejam dan bengis.Tetapi kenapa masih banyak orang tak jera mempelajarinya.Tetapi kenapa masih banyak orang tidak padam meng gali nya ke atas permukaan.
Bukan ilmu yang disalahkan melainkan sang kecil yang mempelajarinya masih terlalu kecil untuk sekedar mengutil kebesaraan ke intelectualan science.

Dear bathin,
seruas merah putih ku kerek ke atas.Bulan depan setengah merah putih berkibar mengikuti arus angin.Untuk apa ? menandakan bahwa kita berkabung atas penghilangan nyawa beribu orang tak berdosa? serta pengharaman atas tionghoa dari tanah seberang? ataukah berduka atas bersimbah darahnya para petinggi TNI di lobang sumur sempit?
Seperti tanda tanya yang kuketik "?" begitulah yang terjadi.Sejarah tidak bisa dihapus, waktu tidak bisa berbalik.
Sang kebenaran masih tersimpan rapi, walau sedikit demi sedikit menghembuskan hawa kemurniaan akan kerelevanan.


Thursday, August 17, 2006

Proklamasi ke 61

enam puluh satu tahun yang lalu,
negara ini menjadi satu bagian meneriakkan "merdeka".
Pandangan atas kebebasan setiap manusia yang berada di tanah ini adalah
sama yakni Human Rights to choose thier own life.
Seorang anak bangsa membuatnya menjadi sah atas hukum norma - norma.
Bukan atas legitimasi negara dan dunia.

Ternyata pandangan proklamasi itu salah,
semestinya bukan proklamsi melainkan kesepakatan bahwa kita ada.
Bahwa penghuni di Indonesia itu adalah juga manusia dan bkn sapi perah
atau babi montok.

Lihatlah kedalam diri kita masing - masing, kita mengusir penjajah karna
apa? ... karna beda warna kulit ? atau beda bahasa ? atau karna semangat
untuk hidup lebih baik ?
Seandainya ada obat mujarab untuk memudakan yang da tua dan membangkitkan
yang sudah mati.Mungkin akan lebih baik dari sekarang, karna hanya mereka
yang tahu persis seperti apa arti kemerdekaan yang mereka rebut waktu itu.

Mungkin kah juga para pejuangan kita merebut kemerdekaan karna memang mereka rasis ?
Hanya melihat beda warna? sehingga mereka harus mengusir yang tidak pernah sama?
... ... ... ... ... Kemudian apa saya dan kita yang mengerti terjebak pada pendapat tersebut?
Terlahir dari yang mati, Terkubur dari yang bangkit, Tertidur dari yang bangun.
Just manages your self to become good for all man kind !

Saturday, August 12, 2006

We are small friends


Kerendahan Hati

Berbicara sesedikit mungkin tentang diri sendiri
Uruslah sendiri persoalan-persoalan
Hindarilah rasa ingin tahu
Janganlah mencampuri urusan orang lain
Terimalah pertentangan dengan kegembiraan
Jangan memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain
Terimalah hinaan dan caci maki
Terimalah perasaan tak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah
Mengalah terhadap kehendak orang lain
Terimalah celaan walaupun anda tidak layak menerimanya
Bersikap sopan dan peka, seklipun seseorang memancing amarah anda
Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai
Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun anda benar
Pilihlah selalu yang tersulit

Thursday, August 03, 2006

Barongsai merah berdelik

Barongsai merah berdelik

liong naga bermain aksi,
dibantu beberapa pemuda tionghoa.
pegangan boleh sama kawan,
semangat boleh sama juga kawan,
akan tetapi persepsi dan bayangan terhadap benda mati tersebut adalah beda.

dimanakah kesamaan itu bisa terjadi?
sekarang? atau tidak akan pernah? atau cuma isapan jempol belaka?
tidak ada yang bisa menjawab nya.

perayaan imlek untuk tionghoa sangat menyentuh kalbu peradabannya.
Sepak terjang kolonial dan pembumi hangusan masyarakatnya membawa
petaka dan dosa tak tertandingi.

Terlambatkah kita yang masih bisa memainkan barongsai mengajak
kawan - kawan tionghoa untuk kembali ke jubah mereka yang telah disediakan
dunia kepadanya?

Munafikkah kawan - kawan penghuni lama tanah ini mengagumi lentera merah
nan indah dan barongsai nan gagah?

Tuesday, August 01, 2006

Kemelaratan.

4:19 PM 8/1/2006
-----------------------
kemurkaan dunia atas penghuninya membuat manusia tahu siapa dia
sebenarnya.
ketakutan akan masa depan membuat manusia dan penghuni nya melarikan
diri dari kenyataan hidup.
dimulai dari menyembah sesuatu yang bisa membawa keberuntungan
sampai dengan mencari pasangan yang mampu menjamin masa depan yang
lebih baik seolah - olah membeli dan menghadirkan surga dalam
kehidupan sekarang ini.

Dimana kah letak kita sekarang ini kawan?
beribu penjelasan yang berujung pada keadaan yang hakiki.
satu demi satu wajah polos menjadi bengis.
satu demi satu wajah kejam berubah menjadi munafik.

Mie instan bukan hanya bagian dari produksi pabrik dalam menyingkapi
kesulitan akan keberadaan makanan pokok.
melainkan Mie instan telah berubah menjadi public destiny yang
'mungkin' bisa menjadi juru selamat dalam kemelaratan bagi sebagian
penghuni dunia ini.